• Sabtu, 16 Oktober 2021

Sedih Liat Jenazah Tak Punya Peti Mati, Melahirkan Donasi Peti Mati dari Tangan-tangan Amatir

- Minggu, 11 Juli 2021 | 07:02 WIB
Relawan buat peti mati buat korban korona (dok, suara jogja)
Relawan buat peti mati buat korban korona (dok, suara jogja)

BệBASbaru.com, DAERAH-JOGJA- Krisis ketersediaan peti mati buntut meroketnya angka kematian pasien Covid-19 di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menuntun sekelompok relawan lintas bidang mencetus sebuah gerakan kolaborasi. Dimotori mayoritas para alumni aktivis Gelanggang Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM), kelompok relawan ini melahirkan gerakan penggalangan donasi peti mati.



"Memang basisnya pada donasi, tapi kami lebih ke pengadaan petinya. Kalau donasi itu nanti kita bisa membelanjakan untuk peti jadi. Tapi, kita donasi untuk membeli bahan yang langsung kita buat menjadi peti, begitu," kata Herlambang Yudho Dharmo selaku juru bicara relawan alumni aktivis Gelanggang Mahasiswa UGM, Jumat (9/7). Herlambang menjelaskan, gerakan ini mulanya sebagai respons atas krisis ketersediaan peti mati di RSUP Dr Sardjito yang kebutuhan atau pemakaiannya meningkat seiring tingginya angka kasus kematian Covid-19 belakangan ini.



Lalu muncul gagasan dari Capung Hendrawan yang kemudian menjadi penyambung lidah bagi sesama alumnus aktivis Gelanggang Mahasiswa UGM lainnya. "Kalau krisis itu ya pemakaman tertunda. Jadi jenazah yang sudah ditahan lebih dari dua jam di rumah sakit dan itu akan terus bertambah dan menumpuk," sebut Herlambang. "Dia (Capung) itu prihatin sebenarnya dengan kondisi nakes yang ada di sana, yang menungguin [pemulasaraan jenazah] itu.


-


Permintaan peti mati meningkat tajam di Jogjakarta (dok, djawanews.com)

 

Mulai dari memandikan, kemudian di kamar jenazah, sampai petugas ambulans pemakaman itu, kalau tidak segera diadakan peti itu kami mengkhawatirkan secara psikologis mereka akan terganggu," sambungnya. Akhirnya empat hari lalu berbekal peralatan yang dimiliki Capung serta para pengrajin kayu koneksinya, gerak bersama para alumnus dimulai. Perlahan demi perlahan mereka belajar dari ahlinya. Garapan pertama menuai sederet evaluasi, mulai dari efisiensi biaya dan material. Misinya, agar nihil donasi terbuang sia-sia.



"Dan bisa menjadi sebanyak mungkin peti," ucap pria 57 tahun itu. Relawan dari alumni aktivis Gelanggang Mahasiswa UGM mempersiapkan peti mati yang akan didonasikan untuk membantu di tengah lonjakan Covid-19, DIY. (Dok. Arsip alumni aktivis Gelanggang Mahasiswa UGM) Hari pertama, Capung dan Herlambang cs mampu merangkai setidaknya 6 buah peti. Lalu berlipat ganda jadi 15 buah di hari kedua, dan kini total telah terangkai sekitar 30 buah peti mati per 9 Juli 2021 ini. Herlambang mengatakan sejauh ini hasil dari gerakan mereka baru didistribusikan secara terbatas ke RSUP Dr Sardjito dan RSA UGM.

Halaman:

Editor: Admin

Tags

Terkini

X