• Selasa, 9 Agustus 2022

Polisi Kembali Bongkar dan Lacak Aset Kasus Penipuan Fahrenheit Lewat Bank

- Rabu, 1 Juni 2022 | 10:12 WIB
Jajaran Ditreskrimsus Polda Metro Jaya menunjukkan barang bukti hasil penangkapan empat tersangka robot trading Fahrenheit di Mapolda Metro Jaya, Selasa (22/3/2022) (dok, Hops.ID)
Jajaran Ditreskrimsus Polda Metro Jaya menunjukkan barang bukti hasil penangkapan empat tersangka robot trading Fahrenheit di Mapolda Metro Jaya, Selasa (22/3/2022) (dok, Hops.ID)

BệBASbaru.com, INVESTIGASI – Kembali investasi bodong di bongkar polisi, kali ini Bareskrim Polri terus melakukan pelacakan terhadap aset milik tersangka kasus penipuan aplikasi Fahrenheit. Pelacakan dilakukan via bank.

"Penyidik sedang melakukan pemeriksaan terhadap pihak bank untuk menjelaskan rekening terkait dan akan mengajukan penyitaan atas dana yang diduga hasil kejahatan," kata kata Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabag Penum) Divisi Humas Polri Kombes Gatot Repli Handoko, Selasa, 31 Mei 2022.

Disisi lain kata Gatot, pihaknya juga tengah menunggu hasil penelitian berkas perkara terhadap para tersangka oleh jaksa.

Berkas perkara tahap I para tersangka itu sebelumnya telah dilimpahkan ke Kejaksaan Agung RI pada 18 Mei 2022.

"Penyidik sedang menunggu hasil penelitian berkas oleh JPU dan akan melengkapi berkas perkara sesuai petunjuk JPU," ucapnya.

Sebagaimana diketahui dalam perkara ini, polisi telah menetapkan sebanyak 10 tersangka.

Lima diantaranya sudah dilakukan penahanan, namun sisanya belum lantaran diduga berada di luar negeri.

Salah satu tersangka yang ditahan adalah bos Fahrenheit yakni Hendry Susanto.

Hendry dipersangkakan dengan Pasal 62 Jo Pasal 8 ayat (1) huruf f Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dan/atau Pasal 105 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan dan/atau Pasal 106 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan dan/atau Pasal 3, Pasal 4, Pasal 5 Jo Pasal 10 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pemberantasan dan Pencegahan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU). Dengan ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara.

Sementara itu, empat tersangka lainnya David, David Berlin Johanes, Inton Luando Johanes, dan Maria Fransiska dijerat Pasal 28 ayat (1) jo Pasal 45A ayat (1) dan atau Pasal 27 ayat (2) jo Pasal 45 ayat (2) Undang-Undang Nomor 19 tahun 2016 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik.

Halaman:

Editor: Editor Alma

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X