• Selasa, 9 Agustus 2022

Promo Holywings Bukan Khilaf Tapi kebodohan dan Disengaja Biar Orang Makin Berjubel Datang!

- Selasa, 28 Juni 2022 | 09:10 WIB
Poster promosi yang dianggap mengandung SARA, diganti dengan permintaan maaf atas kesalahan tim promosi yang telah membuat porter tersebut tanpa persetujuan manajemen Holywings Indonesia (dok, Image/IG/@holywingsindonesia)
Poster promosi yang dianggap mengandung SARA, diganti dengan permintaan maaf atas kesalahan tim promosi yang telah membuat porter tersebut tanpa persetujuan manajemen Holywings Indonesia (dok, Image/IG/@holywingsindonesia)

BệBASbaru.com, POST- Analisa – Gaya promosi yang dilakukan Holywings dianggap sangat salah kaprah dan keblablasan di negara yang mayoritas muslim dan sangat mudah tersulut SARA ini.

Promosi Kafe Holywings di Kemang Jakarta belum lama ini dengan menggratiskan minuman beralkohol bagi orang bernama Muhammad dan Maria sungguh suatu kebodohan alih-alih kekhilafan.

Bagi umat Islam, promosi miras itu jelas melecehkan Rasulullah SAW. Tim kreatif yang dianggap bertanggung jawab atas provokasi itu telah ditahan polisi. Izin kafe tersebut telah dibekukan Pemprov Jakarta.

Deddy Mulyana, Pengajar Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad, menyampaikan pandangannya terkait hal itu. Tulisannya dimuat di harian Umum Pikiran Rakyat edisi 27 Juni 2022, yang dikutip bebasbaru.com, Selasa (28/06/2022). Berikut ini tulisan lengkapnya. Kepada pembaca yang bijak lagi bestari, selamat membaca.

Pada masa lalu, beberapa kasus serupa pernah terjadi, beberapa di antaranya dianggap lebih ringan dan ada pula yang dinilai lebih kontroversial karena perbedaan panafsiran.

  1. Sepeda Motor dengan nama awatara

Tahun 2001, di Bali, umat Hindu pernah merasa dinistakan ketika suatu koran memuat iklan sepeda motor yang menyandang nama-nama awatara (utusan Tuhan dalam agama Hindu) dan dewa seperti Rama 100, Kresna 50, dan Wisnu 100 yang disakralkan umat Hindu. Rama dan Kresna adalah dua dari sepuluh awatara Wisnu.

Umat Hindu percaya awatara adalah penjelmaan Hyang Widhi (Tuhan) ke dunia, untuk menyelamatkan dunia dan umatnya dari kehancuran.

  1. Lambang Omkara di sampul novel Supernova 2.1

Tahun 2003, Forum Intelektual Muda Hindu Dharma Bali memprotes penggunaan lambang Omkara pada sampul depan novel Supernova 2.1 episode Akar yang ditulis Dewi ”Dee” Lestari.

Forum tersebut keberatan lambang yang dianggap sakral oleh umat Hindu itu digunakan sebagai sampul novel Dee yang dibisniskan.

Menurut mereka, sampul novel itu menghina agama Hindu, karena lambang Omkara hanya bisa dipakai dalam buku agama dan tempat ibadah umat Hindu.

Halaman:

Editor: Editor Alma

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X