• Jumat, 1 Juli 2022

KISAH AMIRUL MU’MININ UMAR BIN ABDUL AZIZ (Bagian 6)

- Rabu, 29 April 2020 | 20:41 WIB
Ilustrasi, Khalifah Umar Bin Abdul Aziz (dok, cinta ulama)
Ilustrasi, Khalifah Umar Bin Abdul Aziz (dok, cinta ulama)

Sejarah Umat Islam setelah Wafatnya Nabi Muhammad SAW sangat menarik sekali untuk kita ketahui dan tentu saja wajib kita ketahui, agar kita tahu bagaimana perjuangan dalam menegakan syariat Islam yang luar biasa hambatan dan rintangannya. Sekaligus kita juga tahu bagaimana Agama Islam mampu jadi perekat seluruh Umat Manusia hingga akhir jaman. Kenapa kami angkat kisah Khalifah Umar Bin Abdul Aziz? Karena kita tahu saat ini sangat langka ada pemimpin yang seperti beliau. Baik ketaqwaannya, keadilannya, ketegasannya serta benar-benar hanya memikirkan Umat Islam dan tidak hanya diri sendiri dan keluarga beliau saja. Inilah kisahnya yang kami kutif dari buku ‘Mengenal Pola Kepemimipinan Umat dari Karakteristik Perihidup Khalifah Rasulullah” Alih Bahasa Oleh: Mahyuddin Syaf dkk, cetakan kedua dari Penerbit CV Diponegoro, Bandung, Tahun 1985. Selamat membaca mulai edisi ini dan seterusnya, semoga bermanfaat
-----------------------------------------------------


Pembicaraan mereka berlangsung lama sekali sebagaimana dikisahkan oleb pengarang "Al—Aghani", yang menyingkapkan betapa dalamnya ilmu pengetahuan Abdul Malik bin Marwan, terutama dalam bidang syair. Sekarang, Umar bin Abdul Aziz hidup bersama orang pandai ini di bawah satu atap. la bergaul dan berbicara perihal ilmu pengetahuan dan syair secara terus menerus .... Meskipun demikian, kemana pun kemampuannya pergi dan berputar-putar, kendali urusan tetap selalu berada dalam genggaman keutamaannya dan kembali kepada agamanya. Bagaimanapun gemarnya kepada syair dan perhatiannya yang begitu besar terhadapnya, namun ia menjauhkan diri dari syair yang berisi cacian dan makian. Begitu pula yang bertemakan kasih asmara. Hingga akan dapat disaksikan nanti, tatkala ia diangkat sebagai Gubemur Madinah. Diusirnya Umar bin Abi Rabrah dari kota itu, disebabkan syair-syairnya yang banyak mengandung kecabulan dan memandang enteng kehormatan! Ringkasannya, Umar bin Abdul Aziz menyerahkan bakat dan kemampuannya kepada tujuan yang teramat jauh, sebagaimana halnya ia telah menyerahkan masa mudanya bagi kebaikan. Dalam hal mendapatkan segala yang dikehendaki-Nya, tabi'atnya yang dinamis merupakan bantuan yang amat besar faedahnya, hingga ia memperoleh jauh lebih banyak dari apa yang diinginkannya, serta menjadikannya sebagai anak muda yang berpengetahuan luas. Pandangannya yang luas men-jadikannya sebagai orang yang tiada terkekang sikapnya (dalam arti positif). Kemuliaan, keunggulan dan keteguhan pendiriannya, diberinya imbalan dengan membiarkannya menikmati kesenangan dan kegemaran yang diinginkannya. Takdir Allah SWT seakan-akan memang menghendaki kehadiran Umar bin Abdul Azi dalam perwujudan nya seperti itu. Sehingga tatkala kursi ke khalifahan nanti berada dalam tangannya, dan ia berubah menjadi salah seorang yang paling besar di antara orang-orang yang saleh dan suci. Maka dunia akan dapat kezuhudan dan ketaatannya dalam beribadah bukalah merupakan manifestasi dari tabitnya yang kaku, tetapi merupakan perwujudan dari keunggulan jiwanya yang luar biasa. Yang berhasil menguasai wataknya yang penuh elan dan pribadinya yang resah gelisah karena asyik mencari. Tepat ketentuan Allah SWT, akan memperlihatkan kepada kita tentang diri seorang dengan panorama yang mengagumkan ini ! Suatu hari, kepadanya didatangkan pakain yang paling mewah dan mahal, yang terbuat dari sutera dengan mutu yang sangat baik. Dirabanya pakaian itu dengan jari-jemarinya seraya berkata dangan penuht kecewa:, "Alangkah kasamya baju ini !" Namun sewaktu ia dilantik menjadi khalitah, dan kepada nya dipersembahkan orang seperangkat pakaian kasar yang tidak biasa dipakai, bahkan oleh orang-orang miskin sekalipun, maka dengan airmatanya yang berlinang ia berkata lirih: "Alangkah lembut dan enaknya pakaian ini! Berilah aku yang lebih kasar dari ini ...!" Wahai engkau pembesar Bani Umaiyah, silakan anda mem-bumbung tinggi dengan jiwa anda yang selalu gelisah mencari Kehidupannya seperti ini, bagaikan cermin yang akan memantulkan tindakan-tindakan yang luar biasa daripadanya, pada masa pemerintahannya sebagai khalifah nanti. Bukankah sekarang ini segalanya dapat diperolelmya. Pakaian yang paling bagus dan mewah, makanan paling lezat dan nikmat, kendaraan dari kualitas nomor satu, permadani paling lembut dan halus, menuntut ilmu tanpa batas, dan Pergi ke mana saja ia mau, dengan segala kebajikan dan keutamaan, melanglang buana dari timur ke barat, bagaikan sampul penutup kitab. Itulah seorang yang menyandang gelar paling terhormat di antara bangsanya, yang memiliki segala sesuatu yang memungkinkannya untuk menembus batas-batas yang menghalanginya. Penghasilannya setiap tahun di tambah harta warisan yang diperoleh dari orangtuanya mencapai 40.000 dinar! Ia pernah mengadakan perlawatan dari Syam ke Madinah, dengan suatu kafilah besar yang terdiri atas 50 ekor unta, siap untuk mengangkat barang-barangnya. Ia biasa membeli baju yang paling mewah dan paling mahal, tapi ia hanya memakai-nya satu atau dua kali saja, setelah itu dilemparkannya dan tidak mau melihatnya lagi untuk selama-lamanya! Kapan saja, ia dapat menghias baju kebesarannya dengan semaunya. Berjalan dengan gaya yang memikat, melenggak lenggok bagai burung merak Tapi alangkah mengherankannya! Bagaimana mungkin laki-laki ini dapat bersikap seperti yang ia perlihatkan nanti, yakni di saat ia menduduki kursi Khilafah. Segala sikap dan perilakunya sangat jauh berbeda, bahkan bertolak belakang dengan apa yang disebutkan di atas. Betapa inginnya hati ini untuk segera menyaksikan dengan mata kepala sendiri perubahan mendadak dan menakjubkan itu, seolah-olah kita dilecut dan didorong agar maju ke muka! Namun kita mesti bersabar dan menundanya sebentar, agar dapat disaksikan pula segi-segi kehidupannya yang lain yang memang diperlukan, agar pandangan terhadap laki-laki yang luar biasa ini menjadi lebih lengkap. Pada usianya yang kedua puluh lima, khalifah Bani Umaiyah (Walid bin Abdul Malik) memilihnya menjadi Walikota dan Hakim Kota Madinah. Kota Madinah menjadi gempar dengan berita pengangkatannya, sebab sepak terjangnya (Umar bin Abdul Aziz) telah tersebar ke seluruh penjuru negeri Islam. Kegemparan ini dapat dimaklumi, sebab selain ia dikenal sebagai orang yang istimewa, ia pun menggantikan Hisyam bin Ismail, yang terkenal dengan kelaliman dan kekerasannya, hingga banyak menimbulkan huru-hara dan ketidak senangan masyarakatnya. Pemimpin baru ini mengawali pemerintahannya dengan langkah-langkah yang sama sekali berbeda dengan penguasa-penguasa sebelumnya...Apabila penguasa sebelumnya selalu dikelilingi oleh para pernbantu yang terdiri atas orang-orang jahat, penjilat dan pengambil muka, hingga terkenallah sebuah pameo "uang yang laku itu adalah uang yang palsu", tiba-tiba datanglah pemimpin yang shaleh dan penuh berkah ini. Langkah pertama, diumumkannya bahwa ia akan melakukan pembaharuan dan perbaikan di segala bidang. Tidak akan dibenarkan selain yang benar baik, itu bukanlah yang jelek, kebenaran itu bukanlah kebohongan, adil itu bukanlah sewenang-wenang. Inilah yang menjadi Undang-undang dan sistem pemerintahannya! Bertolak darinya, maka sebagai langkah awal dipilihnya sepuluh orang ulama yang shaleh dan terkemuka di Madinah sebagai anggota majelis sekaligus penasihatnya. Mereka adalah : Ubaidullah bin Abdullah bin Uthbah, Abu Bakar bin Salamah bin Abdur-rahman, 'Urwah bin 'Uthbah, Abu Bakar bin Khaitsamah, Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar, Sulaiman bdri Yasar, Khariyah bin Zaid bin Tsabit, Qasim bin Muhammad bin Hazm, Salim bin Abdullah dan Abdullah bin 'Amir bin Rabi'ah. Pada pertemuan majelis yang pertama, Umar bin Abdul Aziz menyampaikan pesan kepada mereka sebagai berikut; "Saya ajak tuan-tuan berkumpul dalam majelis ini untuk melaksanakan suatu pekerjaan yang dijanjikan beroleh pahala dari-Nya. Tuan-tuan akan menjadi pembantu saya dalam menegakkan kebenaran. Atas nama Allah, saya mengharap kepada tuan-tuan, seandainya tuan-tuan melihat tindakan saya nanti bertentangan dengan hukum Allah, ingatkan saya dan tunjukkan saya jalan yang benar. Langkah awalnya ini, yakni mengikutsertakan orang-orang baik, bertaqwa dan berilmu, pada hakikatnya ia telah mengibarkan bendera kehidupan baru yang akan dijalani bersama, yang dapat memberikan ketentraman dan ketenangan pada diri mereka….Bersambung

Editor: Admin

Terkini

KISAH AMIRUL MU’MININ UMAR BIN ABDUL AZIZ (Bagian 20)

Selasa, 1 September 2020 | 20:28 WIB
X