• Jumat, 1 Juli 2022

KISAH AMIRUL MU’MININ UMAR BIN ABDUL AZIZ (Bagian 7)

- Kamis, 30 April 2020 | 20:41 WIB
Ilustrasi, Khalifah Umar Bin Abdul Aziz (dok, cinta ulama)
Ilustrasi, Khalifah Umar Bin Abdul Aziz (dok, cinta ulama)

Sejarah Umat Islam setelah Wafatnya Nabi Muhammad SAW sangat menarik sekali untuk kita ketahui dan tentu saja wajib kita ketahui, agar kita tahu bagaimana perjuangan dalam menegakan syariat Islam yang luar biasa hambatan dan rintangannya. Sekaligus kita juga tahu bagaimana Agama Islam mampu jadi perekat seluruh Umat Manusia hingga akhir jaman. Kenapa kami angkat kisah Khalifah Umar Bin Abdul Aziz? Karena kita tahu saat ini sangat langka ada pemimpin yang seperti beliau. Baik ketaqwaannya, keadilannya, ketegasannya serta benar-benar hanya memikirkan Umat Islam dan tidak hanya diri sendiri dan keluarga beliau saja. Inilah kisahnya yang kami kutif dari buku ‘Mengenal Pola Kepemimipinan Umat dari Karakteristik Perihidup Khalifah Rasulullah” Alih Bahasa Oleh: Mahyuddin Syaf dkk, cetakan kedua dari Penerbit CV Diponegoro, Bandung, Tahun 1985. Selamat membaca mulai edisi ini dan seterusnya, semoga bermanfaat
-----------------------------------------------------


Dengan tindakannya seperti itu, Umar bin Abdul Aziz berhasil menjadikan daerah yang dipimpinnya menjadi wilayah teladan. Daerah kekuasaannya pun tambah luas, sebab untuk selanjutnya ia dipercayai memimpin seluruh wilayah Hejaz: Mekah, Madinah, Thaif dan sekitarnya. Takdir Allah seakan menghendaki kepemimpinannya pada wilayah-wilayah itu sebagai latihan bagi dirinya dalam rangka menghadapi tugas yang lebih besar dan mulia yang akan diterimanya kelak. Tugas yang akan dipikulkan kepadanya adalah khalifah bagi umat Islam, di mana ia merupakan seorang pemimpin negara Islam yang mempunyai wilayah paling besar, yang membentang dari ujung ke ujung. Sejauh manakah hasil yang diperoleh dari latihan-latihan vang telah ditempuhnya . . . ? Putera Abdul Aziz ini selalu mengawasi setiap etika dan norma hukum, sehingga kepemimpinannya bagaikan taman yang hijau, subur dan indah di tengah-tengah kobaran api neraka yang diwariskan oleh sebahagian besar penguasa Dinasti Bani Umaiyah. Ia membina kebesarannya bukanlah melalui kekuasaan dan kekerasan, akan tetapi dengan kehalusan sikap dan kerendahan hati terhadap sesama manusia, disertai dengan keadilan, kebijaksanaan serta kasih sayang yang merata. Dalam waktu yang sangat singkat, ia telah merebut cinta kasih dan simpati masyarakat. Sementara ulama dan cerdik pandai yang selama ini menjauhkan diri dari umara' dan tidak menaruh simpati dan rasa hormat kepada mereka, sekarang telah sama-sama memberikan penghormatan yang tulus kepada putera Abdul Aziz ini. Bahkan Said bin Musaiyab, yang saat itu merupakan ulama paling besar di antara seluruh ulama meringankan kaki berkali-kali datang ke baIai pemerintahan guna menemui Umar bin Abdul Aziz. Padahal selama ini ia menolak untuk mengadakan kunjungan kepada seorang 'amir atau khali-fah, bahkan bertemu muka pun tak mau apalagi mendengarkan pembicaraan mereka . . . . Ia senantiasa selalu menghadiri majelisnya untuk mengadakan pembicaraan tentang berbagai macam masalah dan persoalan. Pemimpin muda ini mulai menyingsingkan lengan bajunya guna meratakan keadilan dan keamanan dalam masyarakat, sehingga mereka dapat mengenyam kesejahteraan dan ketentraman. Ditembusnya tirai besi yang dijadikan orang-orang Bani Umaiyah untuk membentengi diri. diserukannya suara keadilan dan kebenaran, dijauhkannya dirinya dari kelaliman dan keangkara murkaan. Dengan hati tak gentar, ditantangnya orang-orang durjana dan adikara, bahkan berani menantang gembongnya, yaitu Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi, penguasa Irak. Sekali waktu, khalifah mewakilkan kepada Hajjaj untuk berziarah ke Mekah, pada musim haji. Padahal Umar bin Abdul Aziz sangat tidak menyukai orang ini, karena kekejamannya. Oleh sebab itu, ia segera mengirim utusan kepada Walid bin Abdul Malik (Khalifah), meminta agar Hajjaj tidak melewati Madinah, apalagi singgah di kota itu. Sebenarnya Umar bin Abdul Aziz tahu betul, bahwasanya Hajjaj mempunyai tempat istimewa di hati para penguasa Daulat Bani Umaiyah, terutama khalifah sendiri. Bahkan ia pun menya-dari bahwa sikapnya itu akan membangkitkan amarah Hajjaj dan ia takkan menemui kesulitan dalam membalas dendam kepadanya . . . ! Akan tetapi, Khalifah ternyata mengabulkan permohonan Umar tersebut dan mengirim surat kepada Hajjaj yang isinya: "Sesungguhnya Umar bin Abdul Aziz menyampaikan keberatan kepada saya, bila anda melewati kota Madinah yang berada dalam wilayah kepemimpinannya. Oleh sebab itu, tak ada pilihan lain bagi Anda, selain menghindar dari orang yang tidak menyukai anda . . . ! Kebencian Umar bin Abdul Aziz terhadap orang semacam Hajjaj ini tidak berobah, walaupun ia telah menduduki kursi ke Khalifahan nanti. Sikap mentalnya menunjukkan dengan nyata keteguhan hati dan kemurnian taqwanya. Para penguasa Bani Umaiyah amat berhutang budi kepada Hajjaj, karena ia besar jasanya dalam melestarikan dan meluaskan kekuasaan mereka. Itulah sebabnya, mengapa mereka mempertahankan dirinya. Akan tetapi apa artinya kerajaan yang luas bagi seorang pernimpin macam Umar bin Abdul Aziz, jika berdiri dan berkembangnya melalui tangan-tangan kotor berlumuran darah, dari orang-orang seperi Hajjaj ini! Sikapnya terhadap Hajjaj dan orang-orang yang serupa dengannya memberikan gambaran yang jelas, bahwasanya takdir Allah SWT menghendaki agar masa kepemimpinannya sekarang ini merupakan latihan dan pengalaman bagi masa depannya yang lebih penting. Umar bin Abdul Aziz, sebagaimana telah diceritakan sebelumnya, sangat menyadari, bahwa menyatakan tantangan terhadap Hajjaj bukanlah hal yang sepele. Ia telah mempunyai pengaruh yang demikian besar di kalangan kerajaan. Bahkan boleh dikatakan telah memegang tampuk yang menentukan baik buruknya nasib Daulat Bani Umaiyah. Ia tahu betul bahwa para penguasa anak-cucu Marwan yang memerintah saat ini, bersedia mengorbankan apa pun demi membela dan mempertahankan Hajjai, yakni selama mereka masih memerlukan tangan besi dan tipu muslihatnya. Tetapi bagi seorang tokoh terpercaya macam Umar, hal itu tidak menjadikannya kecil hati, karena yang perlu dan mesti baginya adalah berdiri di atas kebenaran, apa pun halangan dan akibatnya! ia telah mampu melihat persoalan yang ada dengan pandangannya yang jernih. Latihannya dalam memimpin, telah membukakan pandangannya terhadap segala sesuatu yang terjadi di sekelilingnya, di seluruh wilayah yang dikuasainya dan di seluruh wilayah Bani Umaiyah. Sekalipun la merupakan salah seorang di antara ‘penguasa’ Bani Umaiyah. Namun, tidak mau terseret kezalimam ataupun tindakan-tindakan yang dilakukan oleh keluarganya. Dan Ia pun tak mau tertipu oleh rupa lahir
yang kosong dan hampa, yang menjauh dari kenyataan dan kebenaran. Serta tak hendak menjual agama dengan dunia, keluarga dan kaum kerabatnya…Bersambung

Editor: Admin

Terkini

KISAH AMIRUL MU’MININ UMAR BIN ABDUL AZIZ (Bagian 20)

Selasa, 1 September 2020 | 20:28 WIB
X