• Jumat, 1 Juli 2022

KISAH AMIRUL MU’MININ UMAR BIN ABDUL AZIZ (Bagian 8)

- Sabtu, 2 Mei 2020 | 12:24 WIB
Ilustrasi, Khalifah Umar Bin Abdul Aziz (dok, cinta ulama)
Ilustrasi, Khalifah Umar Bin Abdul Aziz (dok, cinta ulama)

Sejarah Umat Islam setelah Wafatnya Nabi Muhammad SAW sangat menarik sekali untuk kita ketahui dan tentu saja wajib kita ketahui, agar kita tahu bagaimana perjuangan dalam menegakan syariat Islam yang luar biasa hambatan dan rintangannya. Sekaligus kita juga tahu bagaimana Agama Islam mampu jadi perekat seluruh Umat Manusia hingga akhir jaman. Kenapa kami angkat kisah Khalifah Umar Bin Abdul Aziz? Karena kita tahu saat ini sangat langka ada pemimpin yang seperti beliau. Baik ketaqwaannya, keadilannya, ketegasannya serta benar-benar hanya memikirkan Umat Islam dan tidak hanya diri sendiri dan keluarga beliau saja. Inilah kisahnya yang kami kutif dari buku ‘Mengenal Pola Kepemimipinan Umat dari Karakteristik Perihidup Khalifah Rasulullah” Alih Bahasa Oleh: Mahyuddin Syaf dkk, cetakan kedua dari Penerbit CV Diponegoro, Bandung, Tahun 1985. Selamat membaca mulai edisi ini dan seterusnya, semoga bermanfaat
-----------------------------------------------------


Dan, yang mengelilinginya berombak dan bergejolak dengan segala bentuk kesesatan dan keserakahan dunia sekelilingnya, sebagaimana yang dibuktikan oleh latihan-latihan dan pengalamannya merupakan dunia yang pernah dilukiskan dengan ucapannya "Dunia ini penghuninya saling menerkam satu sama lain!" Sekiranya urusan dunia ini berada dalam tangannya, tentulah ia akan berusaha memperbaiki kesalahan-kesalahannya sekuat kemampuannya. Namun sementara ini, ia tidak memiliki kekuasaan selain memimpin wilayahnya sendiri. Memang benar, wilayahnya hanyalah berkisar pada apa yang dinamakan wilayah Hejaz semata, di mana ia menjadi Gubernur atau Kepala daerahnya. Maka di sini, ia mencurahkan segenap kemampuannya, dan mencetak wilayah ini sesuai dengan bentuk kepribadiannya yang lurus lagi benar serta adil! Profil kehidupan setelah ia memerintah, wilayah ini tidak lagi seperti sebelum kedatangannya ke sini. Segala sesuatu itu haruslah mengalami perubahan, manusia dengan perjalanan hidupnya, dunia dengan segala sesuatu yang berada di atasnya, dengan jalan-jalan dan terusan-terusannya. Umar bin Abdul Aziz selalu berusaha melakukan pembangunan demi pembangunan, perbaikan demi perbaikan. Dimulainya dengan melakukan pemugaran Masjid Nabawi. Dikirimnya tenaga ahli pembangunan ke setiap penjuru daerah Hejaz untuk melakukan pengawasan, Penelitian-penelitian yang dibutuhkan masyarakat. Dalam batas wilayah dan kekuasaannya, ia berhasil memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap keamanan, terutama perkara keuangan. Seluruh rakyat merasa tentram, tidak ada rasa khawatir akan menjadi sasaran pencurian ataupun perampokan, atau tersia-sia dengan membiarkan harta di tangan orang-orang yang boros dan korup. Kesejahteraan mereka tidak berlebihan dan tidak pula kurang dari yang diperlukan, Umar bin Abdul Aziz membuka pintu kota Madinah selebar-sebarnya bagi mereka yang meminta suaka di wilayahnya akibat teror yang mereka derita di negeri asalnya. Di wilayahnya mereka dilindungi dari pengejaran-pengejaran yang dilakukan oleh para penguasa lalim. Dan mereka diberi jaminan keamanan dan kesejahteman. Pada tahun kedua dari kepemimpinannya, terjadilah suatu peristiwaa yang oleh sejarah hanya di catat sebagat peristiwa biasa saja. Tetapi justru peristiwa itu merupakan faktor utama yang menyebabkan perkembangan, bahkan perubahan mental yang mempengaruhi kepribadiannya. Pada tahun itu, ia ditunjuk oleh khalifah sebagai pemimpin ibadah haji. Baru saja rombongannya sampai di Mekah, dilihatnya bahwa negeri itu ditimpa bahaya kekeringan. Penduduk kota itu menderita kesusahan dan kesengsaraan .... tak dapat berbuat banyak selain mengajak ulama dan orang-orang shaleh yang berada di kota itu beserta siapa saja yang mau, untuk keluar mengikuti dirinya. Kemudian ia menuju padang luas di kota itu. Mereka bersama-sama menengadahkan tangan, berdoa minta dan memohon kepada Allah SWT. Setelah melakukan shalat meminta hujan, Tiba-tiba terjadilah sesuatu mukjizat. Tanpa disangka-sangka dan mana datangnya, hujan lebat mengguyur kota Mekkah dan sekitarnya, padahal saat itu bukan saatnya musim hujan. Semua orang hampir tak percaya terhadap apa yang mereka lihat. Mereka semua menengadahkan muka menatap langit. Langit masih biru, jernih tanpa selembar awan pun, tapi hujan terus turun dengan lebatnya. Tahun itu, semua orang menyaksikan kota Mekah mengalami kesuburan yang luar biasa. Menurut perkiraan, peristiwa ini pasti membekas dan mempunyai pengaruh sangat mendalam pada diri Umar bin Abdul Aziz, yang dengan berjalannya waktu, kelak akan merubah sikap mentalnya. Bagaimanapun juga, terlepas dari apakah ia merasakan atau tidak merasakan, atau berada di antara kedua keadaan itu, maka yang pasti, tatkala ia dihadapkan kepada peristiwa yang keramat itu, ia memaklumi, bahwa Allah telah menitipkan ke dalam jiwanya suatu misteri, suatu kewalian dan kesucian. Bagaimanapun juga, peristiwa itu telah menggugah rasa tanggung jawab pemimpin muda ini, sehingga ia menjauhkan diri dari segala godaan yang bisa menggeluti hawa nafsunya. Umpamanya dari syair dan kepenyairan, dari nyanyi dan penyanyi, walaupun seleranya untuk bersolek dan menikmati kehidupan yang nyaman masih tetap ada sekali waktu, salah seorang yang zuhud melihatnya sedang membeli seperangkat pakaian indah yang sangat mahal harganya, hingga orang itu menegurnya: "Tidakkah lebih baik bila uang sebanyak itu anda berikan kepada fakir miskin?" Teguran itu sama sekali tidak membuatnya murka, malahan ia memberi jawaban dengan balik bertanya: "Apakah menurut anda saya mengabaikan fakir miskin?" Sungguh suatu jawaban yang sangat tepat dan sama sekali tidak meleset, sebab sejak awal kepemimpinannya di Madinah dan Hejaz, ia telah mampu memberikan kesejahteraan dan kemakmuran bagi rakyatnya, hingga tak seorang amir pun dapat menyamainya kala itu. Meskipun senantiasa terus disibukkan dalam masalah pemerintahan. Namun sama sekali tidak dapat melupakan diri untuk terus meningkatkan taqwa dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. la selalu melaksanakan ibadah dengan tekun kegemarannya adalah menghabiskan waktu malam dan khusyu nva di atas Suthuh Masjid Rasulullah, beribadah dan berdoa kepada.Nya. Anas bin Malik, salah seorang shahabat Rasulullah SAW terdekat pernah shalat di belakangnya, maka katanya: "Belum pernah saya melihat seorang imam yang shalatnya sama dengan shalat Rasulullah SAW sebagaimana imam ini!" Demikian pula, kesibukannya memerintah tidaklah mengurangi kegiatannya dalam menambah ilmu dan memahami fiqh. Makin hari, makin kayalah otaknya dengan ilmu pengetahuan. Dalam hal ini boleh dikatakan ia merupakan tokoh dan seorang yang terkemuka. Suatu hari, Abu Nadhar al-Madini berpidato di hadapan ulama Madinah Sambil menunjuk ke arah Umar bin Abdul Aziz ia berkata: "Demi Allah, beliau ini adalah orang yang paling mengerti di antara kita sekalian". Bahkan ulama terhormat, Mujahid bin Jabir, seorang penyanggah Tafsir Ibnu Abbas lebih dari tiga puluh kali, yang juga merupakan seorang di antara ulama yang sangat diperhitungkan, memberi komentar tentang Umar bin Abdul Aziz sebagai berikut: "Setiap kali kami datang untuk memberi pelajaran kepada Umar bin Abdul Aziz, maka kami tidak akan pulang sebelum menyadari bahwa ia adalah orang yang memberi pelajaran kapada kami". Demikian pula Imam al-Taits mengatakan: "Hampir setiap ilmu yang kami pelajari, Umar bin Abdul Aziz selalu merupakan orang yang paling memahami pokok dan cabangnya semua ulama seakan-akan hanya muridnya belaka!" Ucapan-ucapan yang dikemukakan oleh para tokoh Ulama tersebut memberikan gambaran yang amat jelas tentang bagaimana Umar bin Abdul Aziz mengembangkan keutamaan akal dan rohaninya. Menurut perkiraan anda, sejauh manakah tatanan umum Daulat Bani Umaiyah dapat menampung aspirasi masyarakatnya bila dibandingkan dengan tatanan Umar bin Abdul Aziz. Keberanian dan kejujurannya telah membuka kedok tatanan tersebut dan menyingkapkan cacat serta kesalaha-kasalahan mereka. Terhadap segala kebobrokan yang telah dilakukan oleh Daulat Bani Umaiyah, ia hanya sedikit sekali dapat menahan kesabarannya. Meskipun ia sendiri merupakan salah seorang di antara keluarga besar Bani Marwan yang memegang tampuk pemerintahan, dan meskipun mereka (tanpa kecuali) amat segan dan menghargainya, tetapi mereka tidak tahan dan tidak dapat membiarkan sistem atau tatanan baru itu berlarut dan berkepanjangan . . .Bersambung

Editor: Admin

Terkini

KISAH AMIRUL MU’MININ UMAR BIN ABDUL AZIZ (Bagian 20)

Selasa, 1 September 2020 | 20:28 WIB
X