• Jumat, 1 Juli 2022

KISAH AMIRUL MU’MININ UMAR BIN ABDUL AZIZ (Bagian 9)

- Minggu, 3 Mei 2020 | 19:59 WIB
Ilustrasi, Khalifah Umar Bin Abdul Aziz (dok, cinta ulama)
Ilustrasi, Khalifah Umar Bin Abdul Aziz (dok, cinta ulama)

Sejarah Umat Islam setelah Wafatnya Nabi Muhammad SAW sangat menarik sekali untuk kita ketahui dan tentu saja wajib kita ketahui, agar kita tahu bagaimana perjuangan dalam menegakan syariat Islam yang luar biasa hambatan dan rintangannya. Sekaligus kita juga tahu bagaimana Agama Islam mampu jadi perekat seluruh Umat Manusia hingga akhir jaman. Kenapa kami angkat kisah Khalifah Umar Bin Abdul Aziz? Karena kita tahu saat ini sangat langka ada pemimpin yang seperti beliau. Baik ketaqwaannya, keadilannya, ketegasannya serta benar-benar hanya memikirkan Umat Islam dan tidak hanya diri sendiri dan keluarga beliau saja. Inilah kisahnya yang kami kutif dari buku ‘Mengenal Pola Kepemimipinan Umat dari Karakteristik Perihidup Khalifah Rasulullah” Alih Bahasa Oleh: Mahyuddin Syaf dkk, cetakan kedua dari Penerbit CV Diponegoro, Bandung, Tahun 1985. Selamat membaca mulai edisi ini dan seterusnya, semoga bermanfaat
----------------------------------------------------------


Umar bin Abdul Aziz terus menerus berusaha mengungkapkan serta melawan kebobrokan pemerintahan dan kesewenangan para penguasa. Sementara itu, Hajjaj (sebagaimana yang telah dikemukakan terdahulu), yang merupakan tokoh paling bejat di antara mereka, sama sekali tidak pernah melupakan kebenciannya kepada Umar. Sekarang, Hajjaj mempergunakan kebijaksanaan Umar bin Abdul Aziz dalam hal melindungi orang-orang yang menentang penguasa, sebagai alat untuk menggempur dan menaklukan lawannya dengan menggunakan jalan pengaruh Khalifah terhadap anak paniannya, suami saudara perempuannya dan gubernurnya yang berada di Hejaz kepada Khallfah Walid bin Abdul Malik, Hajjaj mengirim utusan untuk melaporkan kesalahan Umar, berupa melindungi orang-orang yang hendak dituntut dan diseret ke meja pengadilan, disebabkan persekongkolan dan niat jahat mereka terhadap keluaga Umaiyah. Kesempatan memang terbuka bagi pengaduan Hajjaj, bahkan bagi setiap pengaduan fitnah yang ditujukan untuk menjatuhkan Umar! Sebabnya, tatanan yang dijalankannya demikian tinggi, hingga tak dapat diikuti dan tidak mungkin dibiarkan begitu saja oleh keluarga Marwan. Sekali waktu, khalifah mengetahui adanya sementara orang yang berada di bawan kekuasaan Umar keterlaluan dalam mencaci maki para tokoh Bani Umaiyah. Umar segera dipanggil untuk menghadap dan ditanyai tentang hal itu. "Bagaimana pendapat Anda tentang orang-orang yang mencaci maki para khalifah? Apa dibunuh saja?" Umar membisu seribu basa . . . . Khalifah bertambah kecewa dan bermasam muka. Kemudian diulanginya kembali pertanyaan: "Bagaimana pendapat anda tentang orang-orang yang mencaci maki para khalifah? Apa dibunuh saja?" Dengan kekuatan dan keteguhan imannya, ia menjawab tanpa menghiraukan segala bencana yang mungkin akan menimpa diri nya; "Apakah orang itu telah membunuh dengan tanpa hak, wahai Amirul Mu`minin . . ?" "Tidak! Tetapi mereka telah mencaci maki para khalifah dan menodai nama baik mereka !' masih dengan ketenangannya yang luar biasa, ia menjawab: "Kalau begitu, mereka harus dihukum karena mencaci maki-nya itu, bukan dibunuh !" Dengan wajah merah karena murka, Khalifah Walid mengakhiri pembicaraan itu. Sedangkan Umar bin Abdul kembali ke tempatnya dengan dibayangi bencana yang segera bakal menimpanya. Hal itu digambarkannya dalam ucapan: "Kemudian aku keluar . . . Kurasakan angin yang meniup diriku bagaikan orang yang dikirim untuk menyeretku kembali padanya !" Di air yang keruh ini, Hajjaj bermaksud hendak menangguk ikan . . . . Ia kemball menyebarkan fitnahnya yang usang untuk menghancurkan musuh besarnya itu. Memang satu kenyataan bahwa Umar adalah seorang yang sangat lapang dada, selapang pintu yang dibukakannya bagi siapa saja yang menuju kota Madinah karena dikejar-kejar oleh orang-orang seperti Hajjaj. Dan memang benar bahwa Umar menghormati orang-orang dalam usaha mereka membeberkan keburukan dan penyelewengan pihak penguasa Bani Umaiyah. Meskipun demikian, ia bukanlah termasuk orang-orang yang mengatur revolusi bersenjata untuk menggulingkan negara sebagaimana dituduhkan oleh Hajjaj. Mungkin, dengan slkap lunak dan sedikit mengalah, ia akan dapat menggagalkan rencana busuknya. Akan tetapi, Umar yang berjiwa bersih, agung serta dinamis, dalam hal seperti ini tidak kenal mengalah atau kompromi! Demikianlah, sewaktu khalifah mengirim surat kepadanya dan menanyakan tentang segala tuduhan yang dilontarkan oleh Hajjaj atas dirinya . . . . Dengan nada tegas yang ditandai oleh keberanian dan kebulatan tekadnya, ditolaknya tuduhan itu. Selanjutnya Umar menyingkapkan ketidak adaannya keadilan dan merajalelanya kesewenang-wenangan. Dibeberkannya pula kekejaman-kekejaman dahsyat yang dilakukan Hajjaj dan kawan-kawannya, dengan kedok sebagai pengabdian untuk mempertahankan kelestarian Daulat Bani Umaiyah. Ditegaskannya pula bahwa tidak ada suatu negara pun yang sadar akan harga dirinya, membiarkan seorang durjana seperti Hajjaj berada dalam barisan para pembesarnya. Diucapkan-nya kata-kata yang sangat tajam seperti di bawah ini: "Sekiranya semua umat didatangkan dengan seluruh dosa mereka di hari kiamat dan kita datang dengan Hajjaj seorang diri, pasti dosa-dosanya jauh Iebih berat dari dosa rnereka seluruhnya!" Khalifah Walid sadar, bahwa dirinya sedang berhadapan deagan seorang laki-laki yang berani menantang bahkan menghinanya. Tidak lama kemudian ia mengeluarkan keputusan mencopot Umar bin Abdul Aziz dari kedudukannya sebagai Gubernur Madinah dan Hejaz. Pahlawan ini segera meninggalkan Madinah, kota yang teramat dicintainya, melebihi kota manapun di dunia. Ditinggalkanya kota tercinta ini dengan tujuan Syam, setelah menjabat sebagai Gubernur selama 6 tahun. Walaupun demikian, ia telah berhasil merebut hati dan simpati warga negeri itu dengan keamanan dan kesejahteraan yang telah diberikannya kepada mereka. Di Syam, ia tidak pernah bertanya kepada dirinya tentang apa yang harus dilakukannya. Tidak pula ia bertanya bagaimana ia akan menghabiskan waktu luangnya, sebab tidak ada barang sedetik pun waktu luang dalam hidupnya Seluruh detik kehidupannya terisi penuh dengan kesibukan dan sarat dengan amal. Semua usaha yang dikerahkannya untuk kesempurnaan yang dicita-citakannya mendorong saat-saat kehidupannya untuk menempuh perjalanan suci yang dipenuhi berkah. Baru saja ia tiba di Syam, didapatinya pasukan Islam sedang bersiap menghadapi pasukan Kerajaan Romawi Timur, yang sering mencari gara-gara dan mengganggu pasukan Islam di perbatasan kedua negara. Umar segera menghunus pedangnya menyingsingkan lengan bajunya. Dengan hati yang ikhlas menerjunkan diri dalam pertempuran sebagai prajurit biasa. Hanya satu yang menjadi harapannya, membantu memperoleh kemenangan atau syahid di jalan Allah. Tidak ada yang lain. Sekembalinya dari pertempuran, ia segera menempatkan dirinya di barisan terdepan dalam pergaulan di antara orang-orang yang terhormat. Kalau di Madinah dulu, ia menempatkan orang-orang pilihan sebagai teman bergaulnya, seperti Ubai-dullah bin 'Uthbah. Maka di Syam pun, ia memilih teman ber-gaulnya dari kalangan terkemuka, antara lain Raja' bin Hewah. Ia pun selalu berhubungan dan banyak belajar serta mengikuti jejak langkah dari ulama besar zamannya, yaitu Hasan Bashri. Penderitaan-penderitaan umat dan kekeliruan sikap penguasa segera mengharu biru hatinya. Ia sering mengeluh dan kecewa. Tetapi apa yang dapat dilakukannya , ia tak berdaya dan tak dapat campur tangan . . ! Satu-satunya upaya yang dapat ia lakukan hanyalah berteriak dengan lantang, selepas suaranya menentang segala bentuk kebejatan dan kedurjanaan. Dan itu telah dilakukannya. Masyarakat yang menderita sering menyebut-nyebut ucapannya yang pedas, yang merupakan tamparan di wajah Bani Umaiyah. Di antara ucapan-ucapannya itu antara lain: "Walid di Syam, Hajjaj di Irak, Muhammad bin Yusuf di Yaman, Utsman bin Haiyan di Hejaz, Qurrah bin Syarik di Mesir dan Yazid bin Abi Muslim di Marokko! Demi Allah, dunia ini telah penuh sesak dengan kelaliman dan kekejaman !" Walid bin Abdul Malik meninggal dunia . . . . Sebagai penggantinya, diangkatlah saudaranya, yaitu Sulaiman bin Abdul Malik. Meskipun Sulaiman memendam rasa simpati dan hormat terhadap Umar, tetapi ia pun menaruh rasa khawatir terhadapnya jika ia menduduki jabatan sebagai gubernur. la lebih menyukainya sebagai seorang saudara atau sahabatnya saja. Atau jika ia ingin menambahkannya, maka sebagai seorang penasihat. Jika Umar bin Abdul Aziz membumbung menuju ketinggian . . . lbadahnya telah memperhalus jiwanya, sebagaimana ilmu pengetahuannya telah menajamkan otaknya. Dengan gigih ia mengsi waktunya dalam menjalankan kebenaran, kebaikan serta menumpas kemungkaran, kedhaliman dan kejahatan. Agama dijadikannya tolok ukur bagi semua tindakan social politik, ekonomi, etika dan lain sebagainya yang dilaksanakan oleh para penguas. Dillhatnya semua segi penuh dengan penyelewengan dan kemungkaran, yang keluar dari hawa nafsu para Amir, Sultan dan penguasa lainnya. Untuk itu ia mengambil alih tanggung jawab dalam hal mengemukakan fakta ini dan menyebarluaskannya. Suatu hari, ia menyertai Khalifah Sulaiman mengunjungi satu pasukan tentara. Di depan markas mereka banyak terlihat anggota tentara dengan berbagai jenis persenjataan, hingga Klalifah Sulaiman dengan bangga bertanya kepada Umar bin Abdul Aziz "Bagaimana pendapat anda tentang semua ini, hai Umar?" Jawab Umar, "Saya heran, dunia ini penghuninya saling menerkam satu sama lain. Padahal yang bersalah dan bertanggundawab terhadap semua ini adalah kamu sendiri !" jawabnya dengnn spontan. Mendengar jawabannya itu, khalifah terdiam . Tidak pernah disangkanya sama sekali bahwa jawaban yang akan dlterimanya seperti itu. Karena itu ia pun balik bertanya: "Apa yang mengherankanmu?" ''Saya heran melihat orang yang sudah tahu hukum Allah, tetapi ia tidak mau tunduk kepada.Nya. Tahu godaan setan tetapi dipenurutkannya, serta tahu akan tipu daya dunia namun tetap didekatinya!". Pada kesempatan lain, tatkala la menyertai khalifah dalam perjalanan haji, tiba-tiba di tengah perjalanan turun hujan dengan derasnya, Khalifah Sulaiman terkejut dan ketakutan melihat genangan air hujan yang mulai mengalir deras. la menoleh ke arah Umar bin Abdul Aziz dan merasa sangat heran karena temyata ia sedang tertawa gembira. Ia pun berkata: "Layakkah dalam keadaan seperti ini tertawa?" Wahai Amirul Mu’mini ini masih merupakan rahmatNya! Nah, bagaimana kalau sudah dalam keadaan amarahNya?" Benar sekali ! Andaikata hujan yang masih dalam taraf sebagai rahmat-Nya saja sudah dapat membuat orang terperanjat, bagaimana keadaannya bila sudah meningkat menjadi amarah dan murkaNya? Bagaimana jadinya, bila bencana yang disediakan-Nya sebagai azab dan siksaNya kelak ? Dengan cara seperti itu, secara tidak langsung ia menyampaikan peringatan. la berusaha membuka mata yang selama ini buta, dan telinga yang selama ini tuli. Dalam waktu yang tidak akan lama lagi, tangan takdir akan mempersilakannya untuk tampil ke depan, guna memikul tanggung jawab besar, yaitu sebagai khalitah dari Kaum Muslimin dan Amir dari Kaum Mu’minin. Kehidupannya sebagai Khalifah, Insya Allah akan mencengangkan anda sekalian . . . . Adapun kewajiban kita saat ini adalah membuka pandangan kita selebar-lebarnya untuk meninjau suasana berat dan pelik yang harus dipikul dan diluruskan oleh Umar bin Abdul Aziz. Yakni suasana yang diwariskan oleh pemerintahan Daulat Bani Umaiyah, yang bermula dari Mu'awiyah bin Abi Sufyan. Dan saat ini kekuasaan itu berada pada tangan Sulaiman bin Abdul Malik bin Marwan…Bersambung

Editor: Admin

Terkini

KISAH AMIRUL MU’MININ UMAR BIN ABDUL AZIZ (Bagian 20)

Selasa, 1 September 2020 | 20:28 WIB
X