• Sabtu, 21 Mei 2022

KISAH AMIRUL MU’MININ UMAR BIN ABDUL AZIZ (Bagian 10)

- Senin, 4 Mei 2020 | 19:19 WIB
Ilustrasi, Khalifah Umar Bin Abdul Aziz (dok, cinta ulama)
Ilustrasi, Khalifah Umar Bin Abdul Aziz (dok, cinta ulama)

Sejarah Umat Islam setelah Wafatnya Nabi Muhammad SAW sangat menarik sekali untuk kita ketahui dan tentu saja wajib kita ketahui, agar kita tahu bagaimana perjuangan dalam menegakan syariat Islam yang luar biasa hambatan dan rintangannya. Sekaligus kita juga tahu bagaimana Agama Islam mampu jadi perekat seluruh Umat Manusia hingga akhir jaman. Kenapa kami angkat kisah Khalifah Umar Bin Abdul Aziz? Karena kita tahu saat ini sangat langka ada pemimpin yang seperti beliau. Baik ketaqwaannya, keadilannya, ketegasannya serta benar-benar hanya memikirkan Umat Islam dan tidak hanya diri sendiri dan keluarga beliau saja. Inilah kisahnya yang kami kutif dari buku ‘Mengenal Pola Kepemimipinan Umat dari Karakteristik Perihidup Khalifah Rasulullah” Alih Bahasa Oleh: Mahyuddin Syaf dkk, cetakan kedua dari Penerbit CV Diponegoro, Bandung, Tahun 1985. Selamat membaca mulai edisi ini dan seterusnya, semoga bermanfaat
-----------------------------------------------------


Siasat licik yang dijalankan Mua'wiyah pada perang Shifin menyebabkan tampuk pemerintahan terpegang sepenuhnya dj tangan Mua'wiyah. Apalagi setelah Ali gugur sebagai syahid di tangan salah seorang Khawarij, yang akal sehatnya telah lenyap dimakan kobaran api fitnah. Ditambah pula dengan dibuatnya perjanjian damai dengan Hasan bin Ali untuk menghindarkan semakin banyaknya darah Kaum Muslimin tertumpah. Demikianlah, kekuasaan telah berada di tangan Mu'awiyah. Ia memerintah dengan penuh kesabaran. Namun di ballk kesabarannya tersembul tipu muslihat yang lihai. la berhasil meletakkan fundamental bagi berdirinya Daulat Bani Umaiyah yang berusia panjang, menembus masa-masa yang silih berganti. Perebutan kekuasaan oleh Mu'awiyah dari tangan bin Abi Thalib telah terjadi. Tidak ada maksud untuk menilai siapa yang benar dan siapa yang salah. Pembahasan tentang peristiwa ini telah dikemukakan secara panjang lebar pada berbagai buku. Adapun diterangkannya di sini, tiada lain hanya sebagai pembuka acara untuk menolak tindakan yang diambil Mua’wiyah dalam mengangkat puteranya "Yazid" sebagal Khalifah berikutnya. Yazid dengan kecerobohan dan kekerasannya telah merobohkan citra pemerintahan yang dibangun oleh Ayahnya, la telah merintis hukum rimba dalam sejarah Daulat Bani Umaivah yang sempat bertahan selama masa kekuasaannya. sangat mengherankan, mengapa tugas untuk melestarikan Daulat Bani limaiyah ini diserahkan kepada orang yang tabiatnya bobrok. Bukankah tabiat yang demikian itu hanya akan menghilangkan kekuasaan itu untuk selama-lamanya . . Yazid meninggal dunia setelah memerintah selama empat tahun. Selama pemerintahannya dipenuhi dengan penyelewengan, kekerasan dan kekejaman. Sebelum meninggaI dunia, kekhalifahan diserahkan kepada puteranya (Mu'awiyah II) karena adanya kekhawatiran jangan-jangan tampuk ke khalifahan tercabut dari istana Muawiyah. Tapi takdir Allah Yang Maha Besar menentukan lain, sekalipun manusia sering melupakan hal itu. Mua’wiyah II adalah pemuda yang taat beribadah dan taqwa. Pada hari yang telah ditentukan, ia mengumpulkan rakyatnya. la naik mimbar untuk menyampaikan amanat: "Kakekku (Mu'awiyah) telah merampas kekuasaan ini dari pemiliknya, yaitu orang yang paling berhak atasnya, karena hubungan kekeluargaannya yang sangat dekat dengan Rasulullah SAW. Serta lebih dahulu masuk Islam, yaitu Ali bin Abi Thalib. Kemudian ayahku (Yazid) mengikuti jejaknya, padahal ia bukanlah orang yang mampu memimpin. la hanya memperturutkan hawa nafsu dan keinginannya belaka. Kesalahannya yang paling besar ialah telah membunuh cucu Rassulullah SAW. Menghalalkan yang haram dan merobohkan Ka’bah. Maka saya tak bersedia mengurus urusan kalian dan memikul beban tanggung jawab kalian. Oleh sebab itu tentukanlah sendiri siapa pemimpin yang akan kalian pilih !" Selanjutnya pemuda saleh itu mengurung diri dalam rumahnya, tanpa menghiraukan masalah ke khalifahan. Dengan tentram ia menemui khaliknya dalam keadaan tentram dan damai. Demikianlah, dinasti Abu Sufyan bukan saja tidak dapat mempertahankan kelestarian kekuasaannya, malahan mendapat hinaan tajam dari salah seorang puteranya sendiri ! Sikap dan tindakan Mu'awiyah II ini menyebabkan goncangan hebat di kalangan Bani Mu'aulyah. Hati oknum-oknum keras laksana baja seperti Ubeidullah bin Ziyad (pembunuh syahid agung Husen bin Ali) menjadi kecut dan gentar. la lari terbirit-birit menyelamatkan diri dengan menyamar sebagai seorang wanita, namun akhirnya ia mati terbunuh. Daulat Bani Umaiyah akhirnya robek di sana-sini yang mengantarkannya ke pinggir jurang kehancuran. Hampir saja kekuasaan itu pindah tangan kepada Abdullah bin Zubair, seandainya tidak muncul suasana yang tak dapat disebutkan di sini, yang memberikan peluang bagi Marwan bin Hakam, dan segera mengambil alih pemerintahan di tengah suasana kacau balau. Akhirnya, pemerintahan pun berpindah tangan dari dinasti Abu Sufyan kepada satu kelompok Bani Umaiyah, yaitu kelompok Marwan bin Hakam. Marwan adalah seorang yang memiliki riwayat hidup yang penuh dengan teka-teki, semenjak ia diangkat sebagai sekertaris kabinet di masa pemerintahan Utsman bin Affan RA. Ia memiliki banyak prinsip dan pendirian yang dicerna dan diyakininya. la memulai kekhalifahannya, atau lebih tepat kerajaannya, dengan melakukan paksaan terhadap rakyatnya. Percobaan jahatnya mula-mula dilaksanakannya di Mesir. Abdurrahman bin Jandam, Gubernur Mesir kala itu berpihak dan membantu Abdullah bin Zubeir. Mesir merupakan suatu benteng yang tangguh dan ditakuti oleh Marwan. Maka dengan memimpin suatu pasukan tentara, ia menyerbu Mesir dan menaklukan Abdurrahman bin Jandam. Kemudian memaksa masyarakatnya untuk berbai'at kepadanya baik suka atau pun tidak. Tatkala ternyata masih banyak yang berbai'at kepada Abdullah bin Zubeir, maka di hadapan, mata kepala mereka, ia memenggal kepala 80 orang pembangkangnya, untuk menakut-nakuti yang lain. Pada waktu yang sama, ia mengirimkan pula di bawah komando Ubaidullah bin Ziyad ke Irak, diperintahkannya untuk menghancur-leburkan kota ini setelah ditaklukannya. Kemudian ia mencurangi Khalid bin Yazid yang diangkatnya sebagai putra mahkota yang akan menggantikan nya. Sebagaimana ia juga memperdayai Sa'id bin Asydag. Andaikata bukan karena serbuan militernya, maka tidak mungkin kekuasaan jatuh ke tangannya. Demikianlah, Daulat Itani Umaiyah dari keluarga Marwan memulai pemerintahannya dengan cara penindasan dan tipu daya. Marwan memerintah selama sepuluh tahun. Sebelum ia meninggal dunia, ia telah mengangkat dan membaiat puteranya, yaitu Abdul Malik Bin Marwan. Sistem pemerintahan yang dilakukan oleh Marwan, nyata sekali mengikuti jejak Mua'wiyab. la telah menjadikan sistem pemerintahannya secara monarci. Artinya jika kaisar satu lenyap maka muncul kaisar yang lain yang akan mengantikannya. Maka tampillah Abdul Malik bin Marwan memegang tampuk pemerintahan, kemudian digantikan oleh puteranya. Walid dan disusul oleh Sulaiman. Sepanjang kekuasaan Daulat ini, terutama pada masa Abdul Mallk, terjadilah pembangunan besar-besaran,. Namun pembangunan yang besar-besaran itu diiringi pula dengan bencana yang menimpa masyarakat. Negara menjadi kacau, rakyat dicekam ketakutan dan kehidupan pun dilanda kemelut. Keadaan itu dapat ditamsilkan sebagai "warisan maut", yang akan segera diterima oleh. Umar bin Abdul Aziz dan merupakan tanggung jawab yang sebagai Khalitah. Apakah kiranya warisan yang mengerikan itu. Ia terllhat dalam wujud kekerasan yang di pergunakan keluarga Marwan dalam rangka mempertahankan kekuasaannya. Kerusakan melanda kehidupan bernegara dan bermasyarakat, secara menyeluruh dalam waktu bersamaan. Hal itu terlihat pada kepalsuan nilai dan hakikat kebenaran. Umat tidak hanya menderita kekosongan, tapi lebih jauh lagi, yaitu menderita kehancuran rohani, kebobrokkan mental dan alam pikiran….Bersambung

Editor: Admin

Terkini

KISAH AMIRUL MU’MININ UMAR BIN ABDUL AZIZ (Bagian 20)

Selasa, 1 September 2020 | 20:28 WIB
X