• Jumat, 1 Juli 2022

KISAH AMIRUL MU’MININ UMAR BIN ABDUL AZIZ (Bagian 12)

- Kamis, 7 Mei 2020 | 21:54 WIB
Ilustrasi, Khalifah Umar Bin Abdul Aziz (dok, cinta ulama)
Ilustrasi, Khalifah Umar Bin Abdul Aziz (dok, cinta ulama)

Sejarah Umat Islam setelah Wafatnya Nabi Muhammad SAW sangat menarik sekali untuk kita ketahui dan tentu saja wajib kita ketahui, agar kita tahu bagaimana perjuangan dalam menegakan syariat Islam yang luar biasa hambatan dan rintangannya. Sekaligus kita juga tahu bagaimana Agama Islam mampu jadi perekat seluruh Umat Manusia hingga akhir jaman. Kenapa kami angkat kisah Khalifah Umar Bin Abdul Aziz? Karena kita tahu saat ini sangat langka ada pemimpin yang seperti beliau. Baik ketaqwaannya, keadilannya, ketegasannya serta benar-benar hanya memikirkan Umat Islam dan tidak hanya diri sendiri dan keluarga beliau saja. Inilah kisahnya yang kami kutif dari buku ‘Mengenal Pola Kepemimipinan Umat dari Karakteristik Perihidup Khalifah Rasulullah” Alih Bahasa Oleh: Mahyuddin Syaf dkk, cetakan kedua dari Penerbit CV Diponegoro, Bandung, Tahun 1985. Selamat membaca mulai edisi ini dan seterusnya, semoga bermanfaat
-----------------------------------------------------


Orang seperti Mu'awiyah sendiri, yang sudah demikian besar kekuasaan dan pengaruhnya, tetap memandang perlu menggunakan media ini dalam menyampaikan maksudnya. Suatu hari, ia memerintahkan rakyatnya untuk berkumpul di lapangan yang telah ditentukan tanpa diumumkan terlebih dahulu apa maksudnya. Semua orang bertanya-tanya .. untuk apa mereka disuruh berkumpul dan apa sebenarnya yang telah terjadi ? Tiba-tiba tukang syair Mu'avilyah berdiri dan naik panggung. Akhirnya mereka pun sadar, bahwa mereka disuruh mendengarkan syair tentang pengangkatan puteranya (Yazid) sebagai penggantinya. Tatkala penyair itu selesal membacakan syaimya, Mu'awiyah terlihat begitu puas dengan apa yang didengarnya. Tetapi ia pura-pura baru saja mengetahuinya, lalu ditepuk-tepukannya tangannya sambil bersandiwara dengan kelihaiannya yang luarbiasa. la berkata: "Akan kita pertimbangkan apa yang kamu katakan itu, dan kita akan beristikharah kepada Allah!" Tatkala Abdul Malik bin Marwan mengerahkan kekuatan-nya membasmi golongan Syi'ah, Khawarij dan para pondukung Abdullah bin Zubeir, maka ia mempergunakan penyairnya (Jarir) untuk berkampanye membenarkan tindakannya. Digubahnyalah syair berikut ini: "Andainya tak ada khalifah yang melaksanakan ajaran Al-Quran, takkan ada hukum dan kesatuan umat, Andalah yang dipercaya oleh Allah Ta'ala, tiada cela dalam pemerintahan anda dan tiada cacatnya wahai keluarga Marwan. Allah telah men istimewakan anda, daripada orang yang agamanya tidak lebih dari 'bid’ah belaka !" Begitulah ia memutar balikkan kebenaran dengan memanfaatkan syair bagi tujuan-tujuan politiknya' DaIam syair tersebut, Jarir menyatakan bahwa Abdul Malik bin Marwan adalah pemimpin yang memberi petunjuk pada kebenaran, sedangkan Abdullah bin Zubeir agamanya adalah bid'ah belaka !
Tatkala Walid mewarisi kekuasaan dari ayahnya, ia pun memanfaatkan syair sebagai penyokong guna mencapai tujuannya. Maka tampilah pula Jarir dengan syair-syairnya: adalah pemimpin utama dan pilihan panji-panjinya selalu di mahkotai dengan kemenangan dan harta rampasan Penguasa 'Arasy teIah menakdirkannya menjadi khalifah. Nah, anda telah menjadi raja, silakan naik mimbar dan mengucapkan salam". Demikianlah . . . dengan syair-syairnya Jarir telah menempatkan Walid sebagai pemimpin pilihan. Sementara khilafatnya merupakan takdir, nikmat serta rahmat dari Allah SWT. Sebagaimana para khalifah mempergunakan syair untuk menegakkan barang batil dan kedudukan mereka, demikian pula halnya para pembesar dan pejabat pemerintahan nya. Dengan demikian, dalam masa pernerintahan Daulat Bani Umaiyah, syair betul-betul menjadi alat ampuh dalam mencapal tujuan para penguasa. Misalnya, Hajjaj berlindung kepada dua pendekar besar syair Daulat Bani Umaiyah di antara trio penyair besar, yaitu Jarir dan Farazdaq. Lihatlah betapa Farazdaq menyanjung Hajjaj dengan mengemukakan syair-syair yang ia sendiri belum tentu mengakui kebenarannya: beum pernah kulihat seorang pun yang demikian banyak usahanya meningkatkan ketaqwaan. Begitupun yang mencari buronan yang lari dari kebenaran dan dengan pedang Allah memukul orang yang durhaka." Dengan sanjungan seperti ini, selera Hajjaj semakin naik. Dia tidak puas hanya dengan puji-pujian dari Jarir dan Farazdaq semata. la pun menghimpun orang-orang semacam mereka untuk menaikkan derajat dan kehormatannya. Misalnya, dipersilakannya A'sya Hamdan tampil memainkan peranan dalam menyanjung dirinya sebagai orang suci dan juru selamat. Katanya: Allah tak sudi kecuali menyempurnakan Nur-Nya dan meniup api orang-orang fasik hingga padam jadinya. Serta menimpakan kehinaan kepada negeri Irak dan warganya. Yakni setelah mereka melanggar janji yang maha kuat lagi erat, Maka korban dari pihak mereka adalah gembong-gembong fitnah dan kesesatan, Sedangkan orang-orang yang hidup di antara mereka menjadi terusir dan hina dina". Begitulah syair dimanfaatkan dalam mencapai tujuan yang sangat tidak terpuji dengan memutar balikan kebenaran serta mencampur adukannya. la menyembunyikan yang hak agar tersingkir dari hati nurani masyarakat. Menyebarluaskan ketakutan di hati mereka dan menghina dinakan meral dan keluhuran akhlak. Kalau sudah demikinn, lalu apa yang dapat dijadikan pegangan masyarakat ...? Mereka melihat dengan mata kepala mereka sendiri para penguasa dan panglimanya menumpahkan darah dan melakukan teror serta penyiksaan di mana-mana. Sementara dalam waktu yang bersamaan tukang syairnya (Adi bin Riqa') mengumandangkan syair-syair yang memuji khalifah: "Tuhan Pemilik shalawat mengucapkan shalawat kepadanya Juga semua orang ketika mereka berkumpul bersama-sama Walid adalah Amirul Mu'minin, yang dijadikannya raja. Hingga mencapai derajat yang tinggi berkat pertolonganNya". Apa yang dapat dijadikan pegangan oleh masyarakat, manakala mereka melihat dengan mata kepala sendiri, Abdul Malik bin Marwan memanggil penyair, Akhtal, untuk menghina para pembela Agama Allah yang ditempatkan oleh AlQuran dan Rasulullah SAW, pada tempat yang tinggi...? Erosi keimanan telah merasuk ke tengah masyarakat, disebabkan berbagai hal yang mereka dengar dan saksikan dalam kehidupan sehari-hari. Kebohongan, kemunafikan dan teror senantiasa melanda kehidupan sehari-hari pada semua lapisan masyarakat. Urat syarat dan akal sehat mereka menjadi rusak dan binasa. Mereka saksikan dengan mata kepala mereka sendiri, bagaimana orang-orang baik dan saleh dibantai, sementara orang-orang jahat dan durjana mendapat kedudukan tinggi. Suara orang-orang saleh seperti Hasan al-Bashri hanya terdengar sayup-sayup dan hampir lenyap. Iman telah terkikis dan Islam pun kembali menjadi sesuatu yang asing. Situasi seperti ini tak ada bedanya dengan yang dialami orang-orang saleh di masa Jahiliyah dulu. Mereka hampir dilanda keputus asa’an. Mereka menengadahkan muka ke langit seraya bersembunyi di celah-celah bukit menanti kedatangan Nabi yang dijanjikan, yang akan mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang. Di masa pemerintahan Daulat Bani Umaiyab, itu terulang Kembali orang-orang saleh yang tertekan dan tertindas menengadahkan muka dan tangan mereka ke langit, seakan menunggu munculnya bintang yang akan menjadi pedoman dan pembimbing kehidupan beragama mereka. Mereka benar-benar menunggu datangnya seorang yang dapat mengangkat kembali martabat dan wibawa para khalifah, yang memperlakukan manusia sebagaimana mestinya, yang dapat meringankan beban penderitaan serta melepaskan ikatan yang membelenggu mereka selama ini. Benar, warisan itu adalah warisan maut . , pusaka yang sangat mengerikan ! Akan tetapi, pertolongan dan ketentuan Allah dapat merubah semua kesulitan dan keruwetan itu menjadi mudah dan rnenyenangkan. Situasi itu sungguh membutuhkan mukjizat. Sedangkan perbendaharaan Allah itu penuh dengan mukjizat, akankah orang-orang yang telah letih lesu ini memperoleh pertolongan dengan salah seorang di antara mereka? Ya, dan sekarang sudah tiba saatnya. Sungguh rahmat Allah itu maha luas AnugerahNya pun sungguh tiada terbatas….Bersambung

Editor: Admin

Terkini

KISAH AMIRUL MU’MININ UMAR BIN ABDUL AZIZ (Bagian 20)

Selasa, 1 September 2020 | 20:28 WIB
X