• Jumat, 1 Juli 2022

KISAH AMIRUL MU’MININ UMAR BIN ABDUL AZIZ (Bagian 13)

- Minggu, 10 Mei 2020 | 19:14 WIB
Ilustrasi, Khalifah Umar Bin Abdul Aziz (dok, cinta ulama)
Ilustrasi, Khalifah Umar Bin Abdul Aziz (dok, cinta ulama)

Sejarah Umat Islam setelah Wafatnya Nabi Muhammad SAW sangat menarik sekali untuk kita ketahui dan tentu saja wajib kita ketahui, agar kita tahu bagaimana perjuangan dalam menegakan syariat Islam yang luar biasa hambatan dan rintangannya. Sekaligus kita juga tahu bagaimana Agama Islam mampu jadi perekat seluruh Umat Manusia hingga akhir jaman. Kenapa kami angkat kisah Khalifah Umar Bin Abdul Aziz? Karena kita tahu saat ini sangat langka ada pemimpin yang seperti beliau. Baik ketaqwaannya, keadilannya, ketegasannya serta benar-benar hanya memikirkan Umat Islam dan tidak hanya diri sendiri dan keluarga beliau saja. Inilah kisahnya yang kami kutif dari buku ‘Mengenal Pola Kepemimipinan Umat dari Karakteristik Perihidup Khalifah Rasulullah” Alih Bahasa Oleh: Mahyuddin Syaf dkk, cetakan kedua dari Penerbit CV Diponegoro, Bandung, Tahun 1985. Selamat membaca mulai edisi ini dan seterusnya, semoga bermanfaat
------------------------------------


Sekarang marilah kita kembali menemui orang saleh itu (Umar bin Abdul Aziz), untuk mengikuti bagaimana kesungguhannya dalam menghadapi situasi, sehingga dapat merubah kegelapan menjadi terang benderang. Nah, itu dia kekhalifahan telah mendekat. Tapi, apakah ia berambisi untuk itu dan menginginkannya...? Sama sekali tidak! la sekali-kali tidak berambisi mem peroleh takhta kekhalifahan. la tahu bahwa Sulaiman bin Abdul Malik mempunyai banyak putera, sedangkan tradisi di kalangan Bani Umaiyah kursi kekhalifahan itu diwariskan kepada anak-anak mereka. Mu'awiyah telah merintis tradisi itu dengan mengangkat Yazid. Begitupun Yazid mengikuti jejak ayahnya mengangkat Mu'awiyah II (yang ditolaknya), kemudian Marwan mengangkat puteranya Abdul Malik. Abdul Malik pun melakukan hal serupa dengan menyingkirkan saudaranya (Abdul Aziz, ayah Umar Bin Abdul Aziz) dan membaiat puteranya Walid sebagai penggantinya. Oleh sebab itulah, Umar sama sekali tidak menginginkan kursi tersebut. Apalagi kini jiwanya telah dipenuhi oleh ketakwaan melebihi apa yang dimiliki orang pada zamannya. Kesucian jiwanya sudah dapat mengikis sedikit demi sedikit keinginan-keinginan terhadap kesenangan dan kemewahan yang bersifat duniawi. Di samping itu, ada satu peristiwa yang meninggalkan kesan begitu mendalam dan menggoncangkan jiwanya. Bahkan sepanjang hidupnya terus dihantui oleb peristiwa itu. la tak habis pikir, mengapa ia sampai terlena, dan rasa taqwanya sampai tergelincir. Peristiwa itu terjadi tatkala ia masih menjabat gubemur di daerah Hejaz. Suatu saat ia menerima surat dari Khalifah Walid agar ia menghukum Khubaib bin Abdullah bin Zubeir, disebabkan orang itu selalu mencela dan menghina Dinasti Umaiyah serta menghasut orang-orang untuk mendurhaka. Perintah itu dilaksanakannya, sehingga Hubaib menemui ajalnya, tatkala berita kematiannya sampai ke telinga Umar, ia bagaikan disambar petir di siang hari bolong. Langit dirasakan-nya runtuh, bintang-bintang bagaikan bertabrakan, bumi laksana terbelah dan kiamat pun bagai terjadi seketika. Peristiwa itu begitu menggoncangkan jiwanya, sehingga ia mengurung diri dalam kamarnya selama tujuh hari. la mengenakan pakaian serba hitam sebagai tanda duka citanya, serta tak henti-henti memohon ampun kepada Allah atas dosa yang telah diperbuatnya. Peristiwa itu telah menghilangkan ambisinya untuk menduduki kursi khalifah. Di telinganya selalu tergiang-ngiang Sabda Rasulullah SAW: “Sesungguhnya jabatan itu adalah beban di dunia dan penyesalan di Akhirat nanti. Kecuali bagi orang-orang yang memperolehnya dengan cara yang benar dan melaksanakan kewajibannya sebaik-baiknya”. Telah dirasakannya bagaimana ia sekuat tenaga untuk melaksanakan keadilan dan kasih saying terhadap rakyatnya, tetapi pada kenyatannya kekuasannya itu melibatkannya dalam dosa. Peristiwa yang amat menggoncangkan jiwanya itu tidak pernah sirna dari ingatannya. Walaupun ia telah menebusnya dengan menjadi khalifah, yang adil, bijaksana, hati-hati dan selalu takwa kepada Allah. Bahkan ke khalifahannyalebih mirip sebuah legenda atau mukjiza daripada kenyataannya., Namun tindakan yang pernah dilakukan waktu yang lampau tidak pernah merasa terganti dengannya. Hal itu dapat dimengerti, sebab perbuatan itu sangat bertentangan dengan wataknya. Benar, dialah khalifah yang sangat sering menangis, sehingga para pendampingnya bertanya keheranan: "Apa yang membuat anda selalu menangis seperti itu wahai Amirul Mu'minin. Bukankah Allah telah menganugerahi anda amal yang biasa dilakukan oleh para ahli surga?" Pertanyaan itu semakin menambah pedih hatinya serta menambah deras derai airmatanya. Ia menjawab lirih: "Tapi . . . , bagaimana dengan Khubaib . . , bagaimana dengan Khubaib ?" Suaranya kemudian berubah menjadi isakan sendu: "Kalau saja aku dapat terhindar dari Khubaib barulah aku merasa tentram !" Itulah yang menyebabkan ia kini sama sekali tak berambisi terhadap kekhalifahan. Ia sudah memutus sepanjang usianya dengan bekal taqwa untuk bertemu Allah dalam keadaan sebaik-baiknya serta berada selalu pada petunjukNya. Dalam fase kehidupannya ini, kita temui ia telah merubah haluan. la mulai mininggalkan bersolek dan menjauhkan diri dari kenikmatan duniawi . . serta mencari teman bergaul di kalangan para zahid dan alim ulama yang saleh. Karena hubungannya dengan para ularna itulah, akhirnya ia bertemu dengan Raja' bin Haiwah, seorang tabi'in paling terkemuka di masanya. Meskipun Raja' merupakan kepercayaan para khalifah Daulat Bani Umaiyah dan senantiasa bergaul di kalangan mereka, namun ia tidak 'menjual pendirannya. Ia tetap mempertahankan martabatnya sebagai ulama. Raja' adalah seorang alim yang bersih dan terpuji. Bila kita berbicara tentang sejarah hidup khalifah Umar bin Abdul Aziz, kita akan menundukkan kepala kepada kepribadiannya dengan penuh kekaguman dan penghomatan. Allah telah menentukan dirinya sebagai penyebab paling utama bagi beralihnya khilafat ke tangan Umar bin Abdul Aziz, yang kemudian disaksikan dunia sebagai suatu mukjizat dengan lahirnya pemerintahan yang adil, bersih dan bijaksana. Semoga Allah selalu melimpahkan kesejahteraan kepada anda wahai Raja' bin Haiwah! Sikap Umar bin Abdul Aziz untuk uzlah atau mengasingkan dlri, sekalipun sangat keterlaluan, tetap mempunyai pijakan. la tidak berlepas tangan dan melupakan segala macam kesulitan yang dihadapi masyarakatnya. Ia tidak pernah berpangku tangan terhadap tanggungjawabnya sebagai anggota masyarakat. Dalam fase kehidupannya sekarang ini, ia bersama sahabat dan gurunya Raja' bin Haiwah tanpa henti-hentinya menyampai kan nasihat dan saran kepada khalifah Sulaiman. Tiadanya keadilan pada masa pemerintahan Daulat Bani Umayah inilah yang paling banyak menyita dan merampas perhatiannya. Oleh sebab itulah, dua kalimat "Keadilan dan kasih sayang" senantiasa menjadi buah bibirnya setiap saat. Ucapan itu selalu dibisikkannya ke telinga khailfah (Sulaiman). Suatu hari, khalifah Sulaiman yang merasa umurnya tak panjang lagi karena penyakit yang diidapnya, sebelumnya la telah menetapkan puteranya Aiyub sebagai khalifah. Akan Aiyub, sebagaimana yang diutarakan oleh Ibnu Abdil Hakam, meninggal dunia dalam usia muda, sehingga kosonglah jabatan khalifah saat itu. Tatkala Sulaiman merasa bahwa tiada laqi harapan untuk sembuh, masalah khilafah ini betul-betul menjadi beban fikirannya. Sedangkan putera-puteranya yang masih kecil-kecil. Dimintanya agar mereka diberi pakaian kebesaran khalifah berikut pedang nya. Dia ingin melihat bagaimana profil mereka dengan pakaian kebesaran itu, apakah pantas atau tidak? Ditampilkannya mereka satu persatu di hadapannya. Namun tak seorang pun di antara mereka yang memenuhi syarat dan berkenan di batinya. Dengan putus asa ia berkata : "Anak-anakku masih terlalu kecil, beruntunglah orang-orang yang mempunyai anak yang telah besar". Kemudian ia bermusyawarah dengan orang kepercayaannya, Raja' bin Haiwah, untuk mencari jalan pemecahan serta sikap dan pandangan yang paling tepat dalam masalah ini. Dengan suara lembut Raja' berkata kepadanya: 'Salah satu yang dapat memelihara anda di alam kubur dan menolong anda di akhirat nanti, ialah dengan mengangkat seorang yang saleh sebagai khalifah bagi kaum muslimin!" "Lalu siapa yang memenuhi persyaratan itu?" Sulaiman balik bertanya dengan penuh kemurungan. "Umar bin Abdul Aziz", jawab Raja' singkat tapi pasti…bersambung

Editor: Admin

Terkini

KISAH AMIRUL MU’MININ UMAR BIN ABDUL AZIZ (Bagian 20)

Selasa, 1 September 2020 | 20:28 WIB
X