• Jumat, 1 Juli 2022

KISAH AMIRUL MU’MININ UMAR BIN ABDUL AZIZ (Bagian 14)

- Rabu, 20 Mei 2020 | 19:01 WIB
Ilustrasi, Khalifah Umar Bin Abdul Aziz (dok, cinta ulama)
Ilustrasi, Khalifah Umar Bin Abdul Aziz (dok, cinta ulama)

Sejarah Umat Islam setelah Wafatnya Nabi Muhammad SAW sangat menarik sekali untuk kita ketahui dan tentu saja wajib kita ketahui, agar kita tahu bagaimana perjuangan dalam menegakan syariat Islam yang luar biasa hambatan dan rintangannya. Sekaligus kita juga tahu bagaimana Agama Islam mampu jadi perekat seluruh Umat Manusia hingga akhir jaman. Kenapa kami angkat kisah Khalifah Umar Bin Abdul Aziz? Karena kita tahu saat ini sangat langka ada pemimpin yang seperti beliau. Baik ketaqwaannya, keadilannya, ketegasannya serta benar-benar hanya memikirkan Umat Islam dan tidak hanya diri sendiri dan keluarga beliau saja. Inilah kisahnya yang kami kutif dari buku ‘Mengenal Pola Kepemimipinan Umat dari Karakteristik Perihidup Khalifah Rasulullah” Alih Bahasa Oleh: Mahyuddin Syaf dkk, cetakan kedua dari Penerbit CV Diponegoro, Bandung, Tahun 1985. Selamat membaca mulai edisi ini dan seterusnya, semoga bermanfaat
------------------------------------


Anjuran Raja’ itu seakan berubah menjadi berita gembira karena hal itu berkesuaian dengan keinginannya. Bahkan rencana pengangkatannya telah menjadi tekad yang disembunyikannya. Kemudian keluarlah ucapannya yang sangat mengesankan: 'Demi Allah, aku akan angkat bagi mereka seorang Khalifah! Takkan kubiarkan sejengkal pun tempat di sini bagi setan untuk campur tangan!" Namun bagaimana mungkin maksud itu dapat tercapai , bukankah saudara-saudaranya sendiri sangat beramblsi untuk menduduki kekuasaan yang tertinggi itu, tak ubahnya bagaikan kawanan serigala yang melihat mangsa? Pada saat itu, Khalifah Sulaiman mendapat petunjuk, yaitu dengan menetapkan hak sebagai Khalifah bagi saudara-saudaranya yang lain setelah Umar. Raja' segera melaksanakan rencana itu, yaitu dengan menuliskan wasiat bersama Khalifah, yang isi-nya : "Bismillahirrahmanirrahim, Wasiat ini dari seorang hamba Allah, Amirul Mu'minin Sulaiman bin Abdul Malik kepada Umar bin Abdul Aziz. Saya mewasiatkan kekhalifahan sesudah saya kepada anda. Dan sesudahnya nanti kepada Yazid bin Abdul Malik. Dengarkanlah semua perkataannya dan taatilah semua perintahnya, serta bertakwalah kepada Allah. Janganlah kalian berselisih, karena perselisihan itu akan mengakibatkan kalian menjadi lemah". Selesailah langkah pertama dari rencana pengangkatan Khalifah hari itu. Ia benar-benar tidak memberi tempat sedikit pun kepada setan untuk campur tangan di dalamnya. Langkah kedua segera diambil oleh Raja’. Dia mengundang semua pembesar Daulat Bani Umaiyah untuk menghadap Khali-fah. Sementara itu surat wasiat telah ditanda tangani dan disimpan dengan baik. Khalifah dan Raja’ sepakat bahwa wasiat itu tidak boleh diketahui oleh siapa pun selama Khalifah masih hidup. Berkumpullah para pembesar Daulat Bani Umaiyah di sekitar pembaringan Khalifah Sulaiman. Kemudian ia memerintahkan kepada mereka agar memberikan bai'at kepada siapa pun yang telah ditetapkannya sebagal Khalifah sepeninggal dia nanti, walaupun namanya masih dirahasiakannya. Sebelum mereka melakukan berbagai pertanyaan tentang siapa nama Khalifah selanjutnya, Khalifah Sulaiman telah menghardik mereka dan tidak mau membukakan rahasia. Mereka di minta kesediaan dan berbai'at, itu saja. Akhirnya semuanya keluar dari kamar Khalifah dan saling bertanya satu sama lainnya. Mereka sibuk memecahkan teka-teki yang menggelitik hati mereka. Umar bin Abdul Aziz sendiri ketika urusan itu diputuskan dan surat wasiat belum di tanda tangani, suatu hari ia menjenguk Sulaiman. Dan ketika ia datang, Sulaiman berkata: "Hai Umar ! Setiap aku menghadapi masalah besar, aku selalu teringat pada dirimu ". Sejak hari itu, Umar sudah merasakan dalam hatinya bahwa Sulaiman akan memberinya satu tugas berat setelah ia meninggal nanti. Oleh sebab itu, bergegaslah ia menemui Raja' bin Haiwah dan memintanya untuk mau menjadi perantara: "Hai tuan Raja' . . . . Saya lihat Amirul Mu’minin tengah menjelang maut, dan saya merasa pasti ia berniat meninggalkan sesuatu pesan. Oleh sebab itu, saya mohon kepada anda, jika ia menyebut-nyebut nama saya untuk menjadi Khalitah, agar anda menolaknya. Sebalilknya jika ia tidak menyebut-nyebut nama saya, maka saya harap anda tidak mengusulkan atau mengingatkannya!". Akan halnya Raja’, ia merasa berkewajiban menjaga rahasia itu untuk tidak diketahui oleh Umar, sebab ia khawatir bila rahasia itu diketahuinya, akan berantakanlah semua rencana. Oleh sebab itu, ia memberikan jawaban kepada Umar dengan menggunakan siasat lihai. Ujarnya: "Dugaan anda telah melantur jauh tidak, saya tidak akan sampai demikian! Apakah menurut perkiraan anda, keluarga Abdul Malik akan memasukkan anda dalam perhitungan mereka. Wajah Umar bin Abdul Aziz menjadi cerah dan berseri-seri, la segera berlalu meninggalkan Raja'.... Sementara Raja pun tidak kalah pula berseri-seri wajahnya, kedua telapak tangan nya ditepukkan karena gembira. Bagaimana tidak akan berbahagia, sebab ia telah berhasil merebut kemenangan dari orang yang akan melarikan diri dari kerajaan, dari kebesaran dan kekhalifahan! Sementara Hisyam bin Abdul Malik, yakni saudara khalifah Sulaiman, karena ambisinya yang demikian besar terhadap kekhalifahan, ia segera menemui Raja' untuk menanyakan siapa sesungguhnya yang telah ditetapkan sebagai penggantinya. la berkata: tuan Raja', saya menaruh hormat dan penghargaan yang sangat tinggi kepada anda. Dapatkah anda memberitahu saya tentang rahasia itu ...? Bila orang yang ditetapkan itu adalah saya, maka saya akan mengetahuinya! Dan seandainya bukan saya, katakan saja tak usah ragu-ragu! Saya berjanji tak akan membuka rahasia ini kepada siapa pun selama hayat dikandung badan!" Namun ulama besar yang bijak itu mengatakan kepadanya, bahwa ia telah beroleh amanat dari Khalifah, serta berjanji tidak akan mengatakan hal itu kepada siapa pun. Dengan hati masygul Hisyam pun berlalu dan bertanya dalam dirinya sendiri: "Seandainya ia telah menyisihkan diriku, lalu kepada siapa pilihan itu akan dijatuhkan? Mungkinkah kekhalifahan ini akan terlepas dari keluarga Abdul Malik?" Suatu hari, Raja' menengok khalifah yang sedang sakit itu. Didapatinya Khalifah Sulaiman hampir menghembuskan nafar nya yang penghabisan. Ditungguinyalah tubuh yang sudah tidak berdaya itu, sampai akhimya lepaslah ruh nya dengan tenang meninggalkan jasadnya. Diselimutinya jasad yang telah kaku itu dengan rapi, kemudian ia bergegas mempersiapkan diri untuk mengumumkan pengangkatan Khalifah baru. Suatupengumuman yang akan merubah kehidupan kaum muslimin dan juga kehidupan dunia pada umumnya. Marilah kita saksikan peristiwa itu". . Kemudian aku keluar, lalu kusuruh seseorang untuk memanggil Ka'ab bin Hamid al-Absi (Kepala Kepolsian) agar mengumpulkan semua keluarga Khalifah. Mereka pun berkumpul di Masjid Dabiq. Kemudian kusampaikan kepada mereka: "Berbaiatlah anda sekalian!" "Kami telah berbaiat sebelumnya, apakash mesti kami ulangi lagi?" ujar mereka. "Ini kehendak Amirul Mu'rninin," ujarku. Merekapun berbaiat satu per satu, dan ketika mereka telah berbaiat, aku pun merasa bahwa rencana telah berjalan sebagaimana mestinya. Lalu kusampaikanlah kepada mereka: Khalifah telah wafat !" Dan selanjutnya kuteruskan membaca surat wasiat itu ...". Tugas yang telah dilaksanakan oleh Raja' bin Halwah sungguh merupakan suatu tugas yang maha besar. Sebab ia telah ber-hasil mendobrak sistem yang selama ini ditempuh oleh tradisi Bani Umaiyah, yaitu keklialifahan yang diwariskan. Demikian pula dengan khalifah yang dipilihnya, sungguh tidak mungkin dapat ditandingi kebesarannya oleh siapa pun ! Dia adalah seorang laki-laki, yang seandainya seluruh tokoh demokrasi sepanjang sejarah berusaha untuk mencari bandingan nya. Maka mereka takkan dapat menemukannya di alam wujud ini! Oleh sebab itu, akan dapat disaksikan bahwa dalam langkah pertamanya setelah ia diangkat menjadi khalifah, ia menggunakan kesempatan itu untuk mengundurkan diri dan menyerahkannya kepada keputusan kaum muslimin, siapa khalifah yang mereka inginkan! Padahal, sebagaimana telah kita ketahul, ia telah di-baiat oleh para pembesar Daulat Bani Umaiyah, tatkala Raja' selesai membacakan surat wasiat yang ditandatangani oleh Amrul Muiminin sebelumnya. Saat itu, Hisyam (salah seorang di antara mereka yang berbai'at secara terpaksa) begitu berhadapan dengan Umar, ia pun berkata: 'inna lillahi wa inna ilahi rajiun. aku telah disingkirkan dari khilafat itu !" Mendengar perkataan demikian, Umar langsung menjawab: "Memang ... ! Inna lillahi wa inna Iillaihi rajiun. Mengapa ia mesti jatuh ke tanganku, padahal aku tidak menyukai-nya!" Baru saja Umar sadarkan diri dari peristiwa yang membingungkan itu, tubuhnya pun menjadi lunglai bagaikan burung pipit kedinginan. Dihampirinya Raja' bin Haiwah seraya kata-nya: "Bukankah anda telah saya peringatkan wahai tuan Raja'?" Kemudian dihampirinya jasad Khalifah pendahulunya yang terbujur di dekatnya. Dishalatkannya jenazah itu. Semua orang yang berada di tempat itu ikut pula bersamanya mengantarkan jenazahnya ke tempat pemakaman. Setelah itu ia kembali kepada keluarga almarhum untuk melakukan ta'ziyah, bahkan turut pula menerima ta'ziyah. Keesokan harinya, berita pengangkatannya telah tersebar ke segenap negeri dan orang-orang pun mulai berkumpul di Masjid Dabiq, Umar pun segera memasuki masjid itu dan ternyata telah penuh sesak dengan para utusan yang datang dari berbagai daerah. la pun segera naik mimbar lalu berpidato:
". . . . Amma bedu, sungguh aku telah menerima cobaan yang sangat besar dengan pengangkatan ini. Tanpa aku mengetahuinya, dan juga tanpa musyawarah dengan kaum Muslimin. Oleh sebab itu, sekarang aku batal semua baiat yang telah diberikan kepadaku, Pilihlah sendiri pemimpin yang kalian kehendaki. Menurut dugaannya, tindakan secara tiba-tiba itu akan membingungkan umat, hingga mereka akan mengunci lidah barang sesaat, di mana ia akan dapat membebaskan dirinya dan memaksa mereka untuk menerima pengunduran dirinya . Tetapi belum lagi ia selesai mengatakan: sendiri oleh kalian". Suasana dalam masjid menjadi gempar dan hiruk pikuk dengan suara-suara yang menyerukan: 'Tidak ! Andalah yang kami pilih wahai Amirul Mu'minin !". Rakyat semakin berdesakkan, baik yang berada di dalam maupun di luar masjid. Orang-orang yang di luar menyerbu masuk ke dalam, saling mendorong menuju mimbar tempat ia berdiri saat itu. Mimbar seakan hendak hancur oleh desakan mereka yang semakin keras dan panas. Umar segera menuruni tangga dan berusaha menyeruak untuk mencari jalan keluar. Suara-suara mereka yang meminta berbai'at bergalau hingar bingar memenuhi masjid. Tangan mereka teracung dan diulurkan ke atas laksana beribu-ribu bendera yang berkibaran. Mata mereka berkilat-kilat memancarkan kegembiraan dan kegairahan hidup yang tidak dapat mereka sembunyikan. Sementara peristiwa itu berlangsung, kedengaran bunyi tangis terisak-isak, yang tiada lain dari tangis .... Umar sendiri...! Bersambung

Editor: Admin

Terkini

KISAH AMIRUL MU’MININ UMAR BIN ABDUL AZIZ (Bagian 20)

Selasa, 1 September 2020 | 20:28 WIB
X