• Jumat, 1 Juli 2022

KISAH AMIRUL MU’MININ UMAR BIN ABDUL AZIZ (Bagian 15)

- Kamis, 21 Mei 2020 | 19:18 WIB
Ilustrasi, Khalifah Umar Bin Abdul Aziz (dok, cinta ulama)
Ilustrasi, Khalifah Umar Bin Abdul Aziz (dok, cinta ulama)

Sejarah Umat Islam setelah Wafatnya Nabi Muhammad SAW sangat menarik sekali untuk kita ketahui dan tentu saja wajib kita ketahui, agar kita tahu bagaimana perjuangan dalam menegakan syariat Islam yang luar biasa hambatan dan rintangannya. Sekaligus kita juga tahu bagaimana Agama Islam mampu jadi perekat seluruh Umat Manusia hingga akhir jaman. Kenapa kami angkat kisah Khalifah Umar Bin Abdul Aziz? Karena kita tahu saat ini sangat langka ada pemimpin yang seperti beliau. Baik ketaqwaannya, keadilannya, ketegasannya serta benar-benar hanya memikirkan Umat Islam dan tidak hanya diri sendiri dan keluarga beliau saja. Inilah kisahnya yang kami kutif dari buku ‘Mengenal Pola Kepemimipinan Umat dari Karakteristik Perihidup Khalifah Rasulullah” Alih Bahasa Oleh: Mahyuddin Syaf dkk, cetakan kedua dari Penerbit CV Diponegoro, Bandung, Tahun 1985. Selamat membaca mulai edisi ini dan seterusnya, semoga bermanfaat
------------------------------------


Sekarang, tampillah seorang pemimpin yang sama sekali baru, yang jauh berbeda dengan orang-orang yang telah mengisi lembaran-lembaran sebelumnya dari buku ini. Bagaimanakah orang ini menampilkan dirinya ? Dari manakah ia muncul secara tiba-tiba dan dari mana pula ia datang dan pergi, Apakah takdir memang telah menempa dirinya untuk memperlihatkan kebaikan dan keagungan di dunia yang telah langka atau hampir lenyap sifat-sifat baiknya? Apakah roh Islam memang bertindak secara diam-diam tanpa menegaskan, bahwa ia selalu melahirkan putera-puteranya Yang terbaik dan luar biasa, sehingga manusia tidak perlu menganggap, bahwa masa itu telah pergi berlalu dan takkan kembali? Apakah hati nurani insani telah gelisah, sehingga ia selalu rnentaati manusia yang paling kuat, yang dengan segala keagungan dan kebesarannya mampu memperingatkan kemanusiaan dengan jalan kesalehan dan kesucian? Apakah kebenaran itu telah bosan mengurusi lahiriah belaka, hingga ia tampil dengan keistimewaan-keistimewaan rohaniah, agar dapat mengisi kekosongan yang sedang menganga. Dan dengan kesalehan dan kezuhudannya dapat menyiram dan membasahi arena kehidupan? Atau, barangkali keistimewaannya itu telah tumbuh dan berkembang pesat dari dalam dirinya tanpa terlihat, serta suatu saat menyemburkan kekuatannya yang luar biasa bila waktunya telah tiba? Ya, semuanya memang demikian, dengan dan karena semua itu, datanglah ke dalam kancah kehidupan ini seorang laki-laki pendatang baru, yang dengan gerakannya yang begitu cepat telah merubah segala-galanya! Seandainya khalifah ini muncul dari orang kebanyakan, seandainya masa silam yang dilaluinya, masa kanak-kanaknya, masa remajanya dan masa dewasanya, merupakan kehidupan biasa sebagaimana halnya yang dialami oleh orang lain, seandainya perubahan mental yang mengherankan itu terjadi melalui suatu proses yang memainkan waktu lama. Serta, seandainya penyebab terjadinya perubahan rohaniah itu merupakan sesuatu yang lain, yang bukan jabatan yang bisa membangkitkan keserakahan dan nafsu keduniaan. Seandainya semua itu seperti demikian, maka mudahlah bagi kita menggambarkan apa yang akan terjadi. Tapi, semuanya berbeda sama sekali dengan apa-apa yang kita kemuliakan tersebut, hingga mukjizat itu pun tampillah Tokoh dari revolusi mental yang akan kita kaji pribadinya yang luar biasa itu bukanlah orang yang lahir dari keluarga kelas biasa. Tokoh ini semenjak dilahirkan sudah merupakan putera seorang pangeran, cucu seorang bangsawan, penghuni istana yang bergelimang kemewahan dan kesenangan. Pada waktu menerima kekuasaan sebagai khalifah, ia bukanlah seorang kakek yang berusia lanjut. Sehingga dapat kita katakan bahwa mukjizat itu terjadi karena ia memang telah kenyang dengan kehidupan dan kenikmatan duniawi. Akan tetapi, peristiwa itu justru terjadi di masa mudanya, di saat sedang dalam masa yang semestinya bergairah terhadap kemewahan dan kesenangan. Dalam usia yang belum lebih dari tiga puluh lima tahun. Demikian pula, proses perobahan rohaniahnya yang hebat itu pun tidak memakan waktu bertahun-tahun atau berbulan- bulan. Tetapi sebagaimana yang akan anda saksikan, peristiwa itu hanya dalam waktu sekejap saja, yakni tatkala ia dipilih sebagai Amirul Mu'rninin! Tidak pula dalam proses perubahan mentalnya ini terdapat peristiwa-peristiwa yang menyebabkannya mengalami kegoncangan, sehingga mengalihkan perhatiannya pada hal-hal yang berlawanan dengan kesenangan dan kemewahan. Tidak pula karena adanya dorongan untuk mensucikan diri dari keinginan-keinginan, baik jasmani maupun rohani. Semua itu tidak ada, semuanya tidak benar, hanya di balik semua perubahan itu, terdapat sesuatu yang sangat tinggi dan amat bernilai. Benar, memang benar, di sana terdapat kedudukan sebagai khalifah dan pangkat yang tinggi sebagai Raja, yakni dari suatu kemaharajaan yang paling besar di masanya! Nah, di sinilah (sebelum pertimbangan apapun) terletaknya kekudusan dari perubahan mulia secara tiba-tiba itu. Dan di sinilah pula mukjizat itu secara keseluruhan menampilkan diri. Sebut saja perubahan macam ini sebagai perubahan mendadak karena prosesnya pun memang demikian! Sekali pun masa kecilnya terhindar dari noda, dan kian hari ketaqwaannya kian meningkat. Dan sekalipun sesudah di copot dari jabatannya di Syam pada masa pemerintahan Walid, usaha mensucikan diri dan meningkatkan ketaqwaan terus tumbuh dan berkembang. Tapi semuanya belumIah cukup untuk dianggap sebagai penyebab terjadinya perubahan mental yang demikian mendadak dan mendasar, yang dalam sekejap dapat menampilkan perasaan tanggung jawabnya yang demiklan besar terhadap kekalifahannya! Tak diragukan lagi pemilihan dan pertolongan Allah lah yang menjadi penyebab terjadinya mukjizat itu. la bebas dari segala sebab dan faktor apa pun, yang menyebabkan munculnya ke alan wujud. Allah SWT berkuasa atas segala sesuat dan la lebih memenuhi di mana la akan menempatkan risalahNya. la Iebih memaklumi di mana la akan menaruh hikmah dan rahasiaNya. Kita sebagai manusia belaka, yang suka berpikir dan berkehendak selalu ingin tahu sebab-sebab terjadinya mukjijat Itu, maka munculah pertanyaan? Apakah gerangan yang mendorong terjadinya perubahan? hal itu terletak pada satu hal, yaitu cara Umar bin Abdul Aziz memahami tanggung jawab pemeritahannya dan sikap dalam menjunjung tinggu tugasnya. Seluruh kekuatan yang berada di dalan dan di luar dirinya terpusat pada satu usaha. yakni menghadapi tanggung jawabnya Itu semata. Umar yang sekarang bukanlah Umar yang dulu lag! Demikian pula dengan negara, umat dan kehidupannya. Semuanya berubah dalam waktu sekejab. Dari bentuk yang lama menjadi bentuk yang sama sekali baru, yang menjadi cermin yang memantulkan kebesaran khalifah dan kesuciannya. Ikatan tanggung jawabnya yang kuat dan langsung dengan Allah SWT. Tidak memberinya tempo untuk bertangguh dan berlalai, Umar sama tekali tidak mau menunggu barang sekejap pun terhadap kekeliruan-kekeliruan itu. Karena ia menyadari bahwa la belum tentu akan diberi usia panjang. Baginya tiada istilah menunda ! Dan sekarang, marilah kita lihat bagaimana hasilnya! Nah itu dia ...! Umar bin Abdul Aziz baru kembali dari pemakaman khalifah pendahulunya, Sulaiman bin Abdul Malik. la tidak lama beristirahat di rumah duka. Dipanggilnya Muflthirn (pembantu rumah tangganya) untuk segera mengambillan kertas, pena dan tinta. Melihat itu, Raja’ mendekatinya, dan dilihatnya tubuh Umar bersimbuh peluh seakan-akan ia sedang sakit keras. Oleh sebab itu, dinasihatkannya agar ia menunda pekerjaan Itu sampai esok pagi, sebab ia perlu beristirahat terlebih dahulu. Akan tetapi Umar bin Abdul Aziz menjawab dengan air mata berlinang: "Aku telah menundanya sekian lama wahai tuan, biarkanlah aku menyelamatkan diriku dari siksa Allah yang sangat pedih itu!" Sungguh, ini betul-betul suatu tanggung jawab yang berhubungan dengan Allah SWT dan dengan apa yang terpendam dalam diri Umar dari rasa mengagungkan, takut dan taat kepadaNya. Ya, itulah tanggung jawab sejati yang membuat orang nya tidak dapat tinggal diam atau tidur nyenyak barang sekejap pun! Muzahirn datang dengan membawa kertas, pena dan tinta ....Sejenak Umar melirik benda-benda itu, kemudian bagai orang yang merenggut anaknya dari terkaman serigala, disambarnya barang-barang itu lalu ditulisnya: Surat perintah kepada Maslamah bin Abdul Malik, segera secepatnya menarik pasukannya dari Konstantinopel — Kepada Usamah at Tanukhi diberinya surat bahwa dia dipecat dari jabatannja sebagai Kepala Jawatan Pajak Mesir. Dan dia diharuskan segera pulang secepatnya untuk mempertanggung jawabkan segala perbuatanny. — Kepada Yazid bin Abi Muslim diberinya surat bahwa ia dipecat dari jabatannya sebagai Gubernur Afrika Utara dan segera pulang untuk mempertanggung jawabkan segala perbuatannya. Surat-surat itu diperintahkannya segera disampaikan kepada orang-orang yang dituju. Para pembesar Daulat Bani Umaiyah lainnya kaget dan membisu seribu bahasa. Namun karena didorong oleh keheranan mereka, maka mereka pun saling berbahur satu sama Iainnya: "Rupanya ia (Umar) demam kekuasaan, hingga tak dapat besabar manunggu esok pagi!” Kasihan mereka tak tahu dan lemah untuk dapat menyelami jiwa seorang yang mulai berontak dalam hati laki-laki yang tidak meIihat pada jabatan khalifah yang mereka perebutkan itu, selain dari satu ujian sang maha berat. Tindakannya yang tangkas dan cepat dalam masalah tiga pejabat ini, memberi gambaran kepada kita akan tanggung jawabnya terhadap tugas, dan metode yang ditempuhnya dalam melaksanakan tanggung jawabnya. Tentang Maslamah bin Abdul Malik, saat itu sedang memegang jabatan panglima satu pasukan besar yang sedang mengepung Konstantinopel (ibukota kemaharajaan Romawi Timur). Pengepungan itu sudah mendekati hasilnya, seandainya tidak ada muslihat dari perwira Romawi, Leo, yang berhasil mesporak porandakan dan menghancur leburkan kekuatan Islam.Walaupan peluang untuk beroleh kemenangan telah lenyap, sementara perbekalan yang kurang, telah pula menyebabkan banyak di antara mereka menjadi lemah kondisi tubuhnya serta banyak yang jatuh sakit. Tetapi khalifah terdahulu Sulaiman bin Abdul Malik menolak untuk menarik mundur pasukan itu. Hal itu mungkin disebabkan harga dirinya yang sangat menonjol. Dan mungkin…bersambung

Editor: Admin

Terkini

KISAH AMIRUL MU’MININ UMAR BIN ABDUL AZIZ (Bagian 20)

Selasa, 1 September 2020 | 20:28 WIB
X