• Jumat, 1 Juli 2022

KISAH AMIRUL MU’MININ UMAR BIN ABDUL AZIZ (Bagian 17)

- Sabtu, 6 Juni 2020 | 19:29 WIB
Ilustrasi, Khalifah Umar Bin Abdul Aziz (dok, cinta ulama)
Ilustrasi, Khalifah Umar Bin Abdul Aziz (dok, cinta ulama)

Sejarah Umat Islam setelah Wafatnya Nabi Muhammad SAW sangat menarik sekali untuk kita ketahui dan tentu saja wajib kita ketahui, agar kita tahu bagaimana perjuangan dalam menegakan syariat Islam yang luar biasa hambatan dan rintangannya. Sekaligus kita juga tahu bagaimana Agama Islam mampu jadi perekat seluruh Umat Manusia hingga akhir jaman. Kenapa kami angkat kisah Khalifah Umar Bin Abdul Aziz? Karena kita tahu saat ini sangat langka ada pemimpin yang seperti beliau. Baik ketaqwaannya, keadilannya, ketegasannya serta benar-benar hanya memikirkan Umat Islam dan tidak hanya diri sendiri dan keluarga beliau saja. Inilah kisahnya yang kami kutif dari buku ‘Mengenal Pola Kepemimipinan Umat dari Karakteristik Perihidup Khalifah Rasulullah” Alih Bahasa Oleh: Mahyuddin Syaf dkk, cetakan kedua dari Penerbit CV Diponegoro, Bandung, Tahun 1985. Selamat membaca mulai edisi ini dan seterusnya, semoga bermanfaat


------------------------------------------------------


Ke Imanan serta kesetiaannya merupakan falsafah dan tanggungjawabnya. Keduanya dilaksanakan secara optimal dalam adukan rasa takut dan keuletan yang mengagumkan. Karena uletnya, hampir-hampir ia tak dapat beristirahat untuk menghela nafas buang sedikit pun. la sangat mengkhawatirkan di kala ajalnya tiba masih menyisakan pekerjaan yang belum rampung. Masa dua puluh sembilan bulan yang dijalaninya sebagai khalifah bila dihitung dalam skala sejarah, hanya merupakan waktu yang teramat singkat. Namun masa yang singkat itu, sesungguhnya merupakan masa yang teramat panjang dan paling mengesankan dalam sejarah umat manusia, yakni dalam meningkatkan harkat kemanusiaan dan menegakkan kebenaran. Dalam masa yang sesingkat itu, ia telah memberikan percontohan luhur kepada umat manusia dari berbagai tingkatan, agama dan suku bangsa, tentang kemampuan diri manusia dalam mencapai kesucian dan melahirkan mukjizat, yakni jika mereka menjadikan Allah sebagai Pelindung dan Kitab SuciNya sebagai pedoman. Amirul Mu’minin selalu berusaha dan menjaga jangan sampai masyarakat mempunyai fikiran, bahwa ia telah menyodorkan prinsip-prinsip dan peraturan-peraturan baru dalam pemerintahannya. Semua itu dapat mereka temukan dalam Kitab Suci, dalam agama dan jejak langkah para shahabat dan tabi'in sebelumnya. Sesungguhnya yang disetorkannya kepada mereka hanyalah jiwa baru, yakni jiwa pertanggung jawaban yang tepat dan benar yang disokong oleh pengertian yang tepat terhadap saripati Agama Islam dan tujuan syaratnya. Dari itu, marilah kita kaji hubungan Khalifah Umar bin Abdul Aziz dengan tanggung jawabnya. Pertama, pandangannya yang jelas terhadap tanggung jawabnya. Kedua. keterlibatannya yang optimal dalam tanggung jawabnya. Ketiga, ketulusannya dalam melaksanakan semuanya. Untuk melibatkan seseorang secara penuh kepada tanggung jawab, apalagi tanggung jawab yang didasari oleh keimanan, maka hendaknya tanggung jawab itu terlihat jelas untuknya dalam pandangan dan perasaan orang tersebut. Dengan demikian, ia akan dapat membongkar segala yang tersembunyi dan menembus segala macam permasalahan. Keterilbatannya dalam masalah ini (tanggung jawab), bukan saja hanya menenggelamkan dirinya dalam bentuk analisa dan penyelidikan mana yang benar dan salah semuanya, melainkan sudah merupakan keterlibatan seorang yang penuh keyakinan. Perhatikanlah bukti-bukti yang menunjukkan bahwa Umar bin Abdul Aziz memang dapat memandang amat jelas tangung jawab yang ada di hadapannya. Salah satu contoh adalab dari pidatonya: “Rasulullah SAW dan para khalifahnya telah menetapkan Sunnah (ketentuan-ketentuan), yang jika dilaksanakan berarti kita berpegang teguh kepada Kitabullah dan merupakan kejayaan bagi Agama Islam. Tidak dibenarkan bagi siapa pun untuk mengganti atau merubahnya, atau membuat yang lain daripadanya! Barangs iapa yang mengambilnya sebagai petunjuk, maka dialah yang akan beroleh petunjuk. Barang siapa yang meminta pertolongan kepada-Nya. Maka dia akan memperolehnya dan barang siapa yang meninggalkan kezalimannya serta mengikuti jalan yang tidak ditempuh kaum Muslimin, maka Allah akan memalingkannya ke arah yang dikehendakt-Nya dan akan disiksa dalam neraka jahanam. Yaitu sejelek-jeleknya tempat kembali!. Hai kaum muslimin, tidakada lagi Nabi setelah Nabi kalian, dan tidak ada lagi kitab suci diturunkan setelah Kitab Suct Nabi ini. Apa yang ditetapkan Allah sebagai suatu yang halal melalui Nabi-Nya, itulah yang halal sampai hari kiamat, dan apa yang diharamkan-Nya melalui Nabi-Nya. Itu pula yang haram sampal hari kiamat kelak. Ketahuilah, bahwa aku bukanlah seorang pemberi keputusan, Aku hanyalah orang yang melaksanakannya, Aku bukanlah orang yang membuat-buat aturan baru , tetapi hanya sekedar mengikuti aturan itu. Dan aku bukanlah orang yang paling baik di antara kalian. Aku tidak ada bedanya dengan kalian. Hanya saja akulah orang yang paling berat bebannya di antara kalian !" Begitu jelas tanggung jawab di hadapan Umar bin Abdul Aziz. Jelas yang sejelas-jelasnya, sedikit pun tak ada kesamaran di dalamnya. Pokok pangkalnya tiada lain dari Agama Allah yang disampaikannya, sebagai karunia-Nya dan telah diridai-Nya sebagai agama yang harus dipeluk oleh seluruh umat manusia! Adapun orang yang membawanya, sekali-kali bukanlah yang merancang hukum-hukumnya. Dan bukan pula hakim yang dapat menentukan hukumnya. Dia tidak lebih dari seorang pelaksana . . . supaya agama dapat dijalankan sesuai dengan kehendak dan prinsip-prinsip-Nya. Ucapannya "aku bukanlah orang yang lebih baik di antara kalian, tetapi kita semua sama ", menandakan bahwa ia tidaklah beroleh fasilitas atau keistimewaan dari agama . Satu-satunya perbedaaan hanyalah "tanggung jawabnya yang lebih berat daripada mereka". Karena selain harus mempertanggung jawabkan dirinya, ia pun harus mempertanggung jawabkan umat dalam mengajak masyarakat untuk meningkatkan ibadah dan akhlak. Ia tidak menempatkan dirinya sebagai juru nasehat atau guru bagi mereka. Bahkan sebaliknya, ia merendahkan diri dan mengakui tentang kekurangan ditunjukkan jalan yang benar. Padahal sebenarnya, ia telahmencapai tingkat yang tertinggi dari petunjuk dan ketaqwaran dan kesempumaan. Perhatikan pula khutbahnya yang lain di bawah ini, diucapkannya di hadapan Kaum Muslimin dan di selingi isak sedu sedannya: “Demi Allah, saya ucapkan kepada tuan-tuan, padahal pengetahuan saya, tidak ada di antara tuan-tuan orang yang lebih banyak dosanya dari pada saya, hingga saya pun bertaubat dan mohon ampun kepada-Nya". Tanggung jawabnya yang begitu besar dan begitu dalam terhadap agama dan terhadap hamba-hamba-Nya, terlihat begitu jelas dari perilakunya. Isterinya (Fathimah binti Abdul Malik), mengisahkan peristiwa sebagai berikut: Suatu hari aku masuk ke kamarnya, dan kulihat ia sedang duduk di atas tikar shalatnya. Pipinya ditempelkan di atas langannya dan airmatanya mengalir. Aku bertanya kepadanya: 'mengapa anda menangis seperti ini ?' Oh malangnya wahai Fathimah , aku diberi tugas mengurus umat seperti ini, yang menjadi buah pikiranku adalah nasib si miskin yang kelaparan, orang yang merintih kesakitan, orang yang terasing di negeri ini, tawanan, orang tua renta, janda yang sendirian, orang-orang yang mempunyai tanggungan k-luarga yang besar dengan penghasilan kecil dan orang orang yang senasib dengan mereka di selurub pelosok negeri ini, baik di timur maupun di barat, utara atau pun selatan !" Aku tahu, Allah SWT akan meminta pertanggung jawaban kepadaku di hari kiamat kelak . . . sedangkan pembela mereka yang jadi lawanku nanti adalah Rasuluaah SAW. Aku betul-betul takut tak dapat mengemukakan jawaban di hadapan-Nya. ltulah sebabnya maka aku menangi. Demikianlah begitu jelas dan gamblang tanggung jawabnya terhadap umat. Yakni sebagaimana dikatakannya "di seluruh pelosok negeri, baik di timur maupun di barat. di utara maupun di selatan. Hatinya sang bersih dan suci itu selalu menyertai umat-nya. Bersamanya anak-anak yatim, orangtua jompo, janda yang ditinggal sendiriaa, fakir miskin, orang-orang yang merintih kesakitan, orang-orang yang sengsara keletihan, orang yang teraniaya. tertindas dan orang-orang yang menjadi tawanan....BERSAMBUNG.

Editor: Admin

Terkini

KISAH AMIRUL MU’MININ UMAR BIN ABDUL AZIZ (Bagian 20)

Selasa, 1 September 2020 | 20:28 WIB
X