• Rabu, 1 Februari 2023

Mahakarya: Kho Ping Hoo Cinta Bernoda Darah (episode 113), Bok Liong Makin Tergila-gila dengan Lin Lin

- Selasa, 24 Januari 2023 | 22:18 WIB
Cinta Bernoda Darah (dok, ilustrasi bebasbaru)
Cinta Bernoda Darah (dok, ilustrasi bebasbaru)

Biografi Kho Ping Hoo:
Asmaraman Sukowati atau Kho Ping Hoo adalah penulis cersil yang sangat populer di Indonesia. Kho Ping Hoo dikenal luas karena kontribusinya bagi literatur fiksi silat Indonesia, khususnya yang bertemakan Tionghoa Indonesia yang tidak dapat diabaikan. Selama 30 tahun ia telah menulis sedikitnya 120 judul cerita. Lahir: 17 Agustus 1926, Kabupaten Sragen. Dalam sejarah cerita silat, barangkali tidak ada karya yang bertahan puluhan tahun seperti Ping Hoo. Namanya lebih terkenal ketimbang para sastrawan. Cerita-cerita Kho Ping Hoo banyak dihiasi kata mutiara maupun hikmah positif yang bisa dipetik pembaca tanpa harus menganalisisnya secara rumit. Ia memiliki prinsip yang banyak dianut oleh orang dari berbagai latar belakang, termasuk pengusaha dan politikus, “Seorang musuh terlalu banyak buat saya, tetapi sejuta sahabat masih kurang.” Meski sudah dipanggil Sang Pencipta pada hari Jumat, 22 Juli 1994, Kho Ping Hoo masih dikenang oleh jutaan penggemarnya dari semua generasi hingga saat ini.

Sinopsis:
"Inilah lanjutan dari serial komik legendaris Bu Kek Siansu dan Suling Emas, yang nantinya bakal berkembang menjadi, Mutiara Hitam, Pendekar Super Sakti dll...silahkan terus dibaca mulai Edisi ini dan seterusnya...”

Empu Cersil Indonesia, Kho Ping Hoo (Dok, tangkapan layar/Istimewa)

BEBASBARU.COM, MAHAKARYA-Cerbung - Pedang Besi Kuning yang hilang dari is­tana dan berada di tanganmu. Lebih baik sarungnya yang istimewa itu diganti, se­hingga tidak akan dikenal orang.”

Lin Lin tersenyum. “Memang inilah pedang itu, kakek gundul dan aku yang mengambilnya. Wah, kalau kau ikut tentu senang sekali, Liong-twako. Kami berdua sikat habis semua masakan di dalam dapur istana.

Wah, enak-enak, pendeknya, selama hidup belum pernah kau merasakannya. Sampai sakit perutku, terlalu kenyang dan perut kakek itu menjadi busung. Dan kami.... kami menyamar seperti kucing....” Lin Lin terkekeh gembira.

Baca Juga: Mahakarya: Kho Ping Hoo Cinta Bernoda Darah (episode 112), Bok Liong Sadar, Lin Lin Gadis Polos yang Merantau

Menutupi mulutnya dan dengan suara terputus-putus diseling tawa ia menceritakan pengalamannya di istana. Bok Liong kagum bukan main. Kagum akan kehebatan Kim-lun Seng-jin, juga kagum akan manisnya mulut yang ber­gerak-gerak bicara itu.

Kemudian mereka berdua memasuki kota Pao-teng dan di sebuah toko senjata, Bok Liong mem­beli sebuah sarung pedang untuk pedang yang tergantung di pinggang Lin Lin.

Halaman:

Editor: H. Masruddin

Sumber: Bebasbaru.com

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X